Apakah menyantap ikan merupakan opsi yang benar-benar sehat?

  • Jessica Brown
  • BBC Future

Ikan memiliki reputasi sebagai salah satu sumber bertabur paling sehat. Tapi opsi sumber pangan alternatif berbasis nabati dengan semakin menjamur memicu pertanyaan tentang apakah kita benar-benar membutuhkan ikan.

Diskusi ini juga dipicu meningkatnya perhatian publik terhadap dampak negatif industri boga bahari terhadap ekosistem laut serta jejak karbon dengan diakibatkan olehnya.

Di sisi lain, daya adanya kandungan merkuri dan polutan lainnya membuat perempuan hamil atau yang tengah menyusui dianjurkan menetapkan konsumsi sejumlah jenis ikan.

Jadi apakah memakan ikan sesungguhnya baik untuk kesehatan atau malah sebaliknya?

Logam berat

Dalam beberapa dekade belakang, salah satu isu soal ikan merupakan risiko kandungan polutan dan logam yang dapat mengancam kesehatan.

Salah kepala yang dikhawatirkan adalah polychlorinated biphenyls (PCBs). Walau dilarang sejak tarikh 1980-an, bahan kimia untuk industri dengan dulu digunakan dalam jumlah luhur ini masih tersimpan di dalam tanah dan ekosistem laut.

Solusi untuk menetapkan asupan PCB dari ikan barangkali berlawanan dengan logika awam, sirih Johnathan Napier, Direktur sains di Rothamsted Research yang berbasis pada Hertfordshire, Inggris.

“Masalah senyawa beracun jalan besar timbul pada ikan yang hidup di ekosistem bebas, yang ditangkap untuk dikonsumsi secara tepat oleh manusia, ” ujar Napier.

Sementara itu, pakan dari turunan produk boga bahari untuk ikan budidaya, biasanya dibersihkan atau digosok untuk menghilangkan racun.

Oleh karena itu, ikan budidaya seringkali lebih aman dikonsumsi daripada ikan dengan hidup liar.

Meskipun secara umum dianggap lebih baik untuk kesehatan serta lingkungan kita, budidaya ikan rasio besar memiliki masalah tersendiri.

Limbah industri ini mencemari laut serta menjadi tempat berkembang biak penyakit yang dapat menyebar ke alam liar.

Ikan yang jadi perhatian NHS itu antara lain ikan berminyak seperti salmon dan sarden, dan spesies laut yang tidak berminyak seperti kepiting dan ikan mengintai.

Satu porsi yang dimaksud NHS berbobot sekitar 140 gram.

Terdapat penuh hubungan kausalitas antara konsumsi merkuri dan munculnya penyakit kanker, diabetes maupun penyakit jantung.

Pada ikan, kadar merkuri cukup tinggi sehingga Badan Pengelola Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan agar perempuan hamil membatasi konsumsi beberapa jenis ikan populer, seperti halibut dan tuna, menjadi satu porsi seminggu.

Akan namun, menurut Napier, kekhawatiran tentang logam berat pada ikan telah dibesar-besarkan.

Senyawa kimia, kata dia, hanya akan menjadi masalah jika bersentuhan dengan spesies yang masa hidupnya sangat lama. Contoh yang tempat sebut adalah ikan todak, yang dapat hidup 15 hingga 20 tahun.

Ikan todak memiliki konsentrasi merkuri 0, 995 PPM. Sedangkan salmon, yang masa hidupnya rata-rata empat hingga lima tahun, mengandung merkuri sekitar 0, 014 PPM.

Kajian tentang perihal ini masih berlangsung. Walau begitu, Badan Pelestarian Lingkungan AS (EPA) menyebut pemisah wajar konsentrasi merkuri untuk rani hamil adalah 0, 46 PPM, jika mengkonsumsi satu porsi di dalam sepekan.

Namun persoalan ini makin memburuk karena muncul bukti bahwa tingkat merkuri di laut dapat meningkat saat suhu bumi menghangat.

Suatu penelitian menemukan bahwa ketika lapisan es di kawasan Arktik meleleh, senyawa merkuri yang muncul kemudian terperangkap di tanah beku ke dalam saluran air.

Walau merkuri menimbulkan risiko kecil, menurut Napier terdapat banyak manfaat yang bisa didapat dari ikan, terutama omega-3.

Asam gemuk

Penyebabnya adalah dua jenis omega-3, yaitu asam lemak eicosapentaenoic (EPA) dan masam docosahexaenoic (DHA).

Sementara beberapa sumber nabati, seolah-olah biji rami dan kenari, menyimpan banyak alpha-linolenic acid (ALA) alias macam lain omega-3.

Sebuah studi tahun 2014 memperkirakan, manfaat untuk kesehatan dalaman dari omega-3 nabati sebanding secara EPA dan DHA. Namun belum ada penelitian lain yang menanggung temuan tersebut.

Anda dapat menemukan EPA dan DHA dalam suplemen alga dan rumput laut.

“EPA serta DHA berperan penting dalam metabolisme manusia, tapi kita tidak mampu memproduksinya secara efektif dalam tubuh. Jadi sangat penting untuk memperoleh dua jenis omega-3 ini sejak makanan kita, ” kata Napier.

DHA berlimpah di otak kita, retina dan jaringan khusus lainnya. Beriringan dengan EPA, DHA melawan peradangan dalam tubuh, yang terkait dengan risiko besar penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

“Data populasi terkait hasil omega-3 dari produk boga bahari terhadap kesehatan konsisten dan kuat, ” kata Philip Calder, kepala pengembangan manusia dan kesehatan pada Universitas Southampton, Inggris.

“Data itu menunjukkan, orang dengan asupan EPA dan DHA yang lebih luhur memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit umum, terutama penyakit dalaman, dan meninggal karenanya, ” introduksi Calder.

Salah satu cara untuk menghindari risiko negatif paparan merkuri saat berusaha mendapatkan omega-3 adalah dengan mengonsumsi suplemen minyak ikan.

Namun, penelitian yang baru-baru ini dilakukan atas nama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyimpulkan bahwa mengkonsumsi komplemen semacam itu tak memiliki khasiat yang sama dengan menyantap ikan berminyak.

Kajian WHO itu menyorot komplemen omega-3 yang mengklaim berbagai kebaikan kesehatan.

“Tubuh kita beradaptasi untuk memaklumi makanan utuh, bukan menyerap segumpal nutrisi atau unsur tertentu, ” kata Napier.

“Temuan kami menunjukkan, hasil positif yang sangat terbatas di dalam hal menurunkan risikokematian akibat keburukan jantung koroner, ” tambah Lee Hooper, seorang pengawas dari University East Anglia dan satu diantara pengkaji dalam studi WHO.

Hooper berkata, sekitar 334 responden penelitian harus mengkonsumsi suplemen omega-3 selama empat atau lima tahun. Jika syarat itu terpenuhi, diyakini tidak satupun itu akan meninggal karena penyakit jantung koroner.

Namun ada masalah dalam belajar populasi seperti yang dilakukan Hooper.

Meski beberapa ikan berminyak serupa sarden harganya relatif tidak langka, ikan umumnya dianggap makanan langka.

Ada pandangan umum bahwa status sosial ekonomi memengaruhi kesehatan. Jadi bisa saja keluarga yang mamah lebih banyak ikan juga memiliki pendapatan yang lebih tinggi & gaya hidup yang lebih bugar secara umum.

Biasanya, kata Philip Calder dari Universitas Southampton, peneliti mau mempertimbangkan sejumlah faktor yang mengacaukan sebab-akibat seperti itu.

Meski sejenis, peneliti mungkin tidak memikirkan seluruh faktor yang dapat mengganggu hasil studi.

Kajian WHO ini ialah tinjauan terhadap 79 studi, yang masing-masing memiliki cara berbeda di dalam mengontrol status sosial ekonomi responden.

Namun uji intervensi juga memiliki masalah terpisah. Dalam percobaan ini, para responden secara acak dimasukkan ke sepadan kelompok dan intervensi seperti mengonsumsi suplemen omega-3 diukur.

Calder berkata, menganalisis potensi dampak kesehatan lantaran defisiensi EPA dan DHA suram dilakukan karena pada awal uji coba para responden memiliki berbagai tingkat omega-3 dalam sistem tubuh mereka.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa ikan dapat memengaruhi kesehatan setiap orang dalam berbagai tingkat, bersandar pada seberapa jauh mereka sanggup mengubah bentuk prekursor EPA serta DHA.

Menurut Calder, perbedaan ini dapat disebabkan oleh pola sajian dan gaya hidup seseorang dengan keseluruhan. Tapi perbedaan genetik serupa dapat berperan.

Penyebab lain variasi laba kesehatan ikan adalah cara pelestarian ikan.

Ekosistem laut penuh dengan omega-3. Ikan kecil memakan plankton. Ikan ini lalu dimangsa ikan yang lebih besar, dan seluruh pertalian makanan meneruskan omega-3 ke pribadi.

Akan tetapi, hal berbeda sah pada ikan budidaya yang beberapa besar menjadi sumber pangan kita.

“Di sebuah peternakan ikan, cuma ada ribuan ikan dalam utama keramba. Mereka makan apa dengan diberikan oleh petani ikan, ” kata Napier.

Seperti di alam liar, ikan budidaya biasanya diberi makanan berupa spesies ikan yang lebih kecil. Namun di ekosistem alami, ikan memakan berbagai jenis ikan yang lebih kecil.

Di peternakan, ikan sering diberi tepung ikan yang terbuat dari ikan teri Peru.

Namun penangkapan ikan teri ini sudah mencapai tingkat maksimum sehingga tidak lagi berkelanjutan, kata Napier, bahkan saat budidaya ikan pada lingkup global diperkirakan akan tetap berkembang.

Menurut FAO, meningkatnya permintaan suplemen minyak ikan menandakan minyak ikan yang terkandung dalam tepung ikan yang diumpankan ke ikan budidaya semakin berkurang.

Artinya, total omega-3 dalam ikan yang kita konsumsi juga menurun.

“Ada batas kadar minyak ikan omega yang dapat diambil dari lautan setiap tahun, cuma itu yang kita dapatkan, ” ujarnya.

“Jika peternakan ikan tumbuh, tapi faktor terpenting yang Kamu butuhkan, yaitu minyak ikan, benar-benar statis, maka Anda mengurangi bagian santapan ikan, ” kata Napier.

Studi tahun 2016 menemukan bahwa tingkat EPA dan DHA pada salmon yang dibudidayakan menurun hingga 50% selama satu dekade.

Meski begitu, kata Napier, salmon yang dibudidayakan masih memiliki lebih banyak omega-3 daripada salmon liar.

“Salmon liar berenang bolak-balik melintasi Samudera Atlantik, itu menjadi hewan yang kurus. Salmon-salmon itu kehilangan lemak karena mereka membakar semua yang mereka konsumsi, ” katanya.

Makanan untuk otak

Selain omega-3, ikan memiliki nutrisi bermanfaat lainnya, termasuk selenium, yang melindungi sel dari kerusakan dan infeksi. Tersedia pula yodium, yang mendukung metabolisme yang sehat dan unsur bersifat protein.

Ikan telah lama dipuji sebagai ‘makanan untuk otak’. Sebuah menuntut baru-baru ini menunjukkan bahwa hal ini tidak hanya berkat kandungan omega-3, walau sebenarnya juga ada kaitan antara omega-3 dan penurunan kognitif.

Para peneliti membandingkan volume otak responden yang mengonsumsi ikan dan yang tidak memakannya. Tim peneliti menjumpai bahwa ikan panggang dikaitkan secara volume materi abu-abu yang lebih besar, terlepas dari kadar omega-3.

“Volume nalar kita berubah seiring dengan peningkatan kesehatan dan penyakit. Semakin penuh neuron yang Anda miliki, semakin banyak volume otak yang Anda miliki, ” kata Cyrus Raji, asisten profesor radiologi dan neurologi di Washington University School of Medicine.

Para peneliti membandingkan kebiasaan mengkonsumsi ikan dan melakukan pemindaian MRI terhadap 163 responden yang sama berusia akhir 70-an tahun.

Awak peneliti menemukan bahwa, dibandingkan dengan peserta yang tidak makan ikan apa pun, mereka yang prasmanan ikan setiap minggu memiliki volume otak yang lebih besar.

Volume itu kebanyakan ditemukan di lobus langsung yang dianggap penting untuk memajukan fokus dan di lobus temporal yang penting untuk daya memikirkan, proses belajar dan kognisi.

Menurut Cyrus Raji, hubungan antara ikan dan otak bisa jadi berkaitan secara ikan yang memiliki efek anti-inflamasi. Alasannya, ketika otak memberi respons untuk mengurangi peradangan, hal tersebut dapat memengaruhi sel-sel otak.

“Ini bermakna Anda dapat meningkatkan kesehatan nalar dan mencegah Alzheimer dengan segalanya yang sederhana seperti konsumsi makanan ikan, ” kata Raji.

Buat membuat daya tahan besar penggagas untuk melawan penyakit demensia, Raji menyarankan kita untuk mulai mematikan ikan setidaknya sekali seminggu era Anda berusia dua puluhan atau tiga puluhan.

Alasan lain ikan membereskan adalah perannya menggantikan makanan invalid sehat yang kita santap.

“Jika kita makan lebih banyak ikan, kita cenderung makan lebih sedikit hal-hal lain, ” kata Hooper.

Namun, karena tak ada hasil penelitian kuat dengan menunjukkan kesehatan yang lebih hina di kalangan orang yang tidak makan ikan, Calder menilai suram secara pasti mengatakan bahwa ikan penting untuk kesehatan manusia dengan keseluruhan.

Namun, kata Calder, terang bahwa omega-3 meningkatkan kesehatan serta mengurangi risiko penyakit.

Meski begitu, kepastian seberapa sehatnya ikan sebenarnya barangkali menjadi hal yang telah sekian lama diperdebatkan.

“Karena ikan bukanlah sumber makanan yang berkelanjutan, pengkajian sekarang mungkin akan berfokus di solusi untuk mengatasi persoalan tersebut, seperti cara menumbuhkan alga serta memanen minyak omega-3, ketimbang studi lebih lanjut tentang ikan itu sendiri, ” kata Calder.

Setiap karakter dapat membantu menuntaskan persoalan itu dengan menyantap spesies ikan dengan paling lestari.

Panduan seperti dengan dibuat oleh Marine Conservation Society menunjukkan ikan apa saja yang terbaik. Sekitar 50 dari 133 spesies yang terdaftar merupakan pilihan yang berkelanjutan dan dianggap “baik”.

Ikan yang digemari publik seperti salem yang dibudidayakan, udang, ikan cod, ikan makerel, kerang, tiram, serta ikan halibut yang dibudidayakan tercatat dalam opsi “baik” itu.