Beribu-ribu orang protes di Thailand: Penjaga semprot meriam air ke arah pengunjuk rasa yang tak indahkan larangan demo

Beribu-ribu warga Thailand melakukan unjuk mengecap di Bangkok untuk hari kedua, tidak mengindahkan dekrit darurat pemerintah, di tengah langkah pemerintah negeri itu memblok akses petisi online Change. org.

Petisi itu berisi petisi seruan agar Raja Sungguh Vajiralongkorn ditetapkan sebagai persona non grata di Jerman.

Polisi menggunakan konon air untuk membebaskan demonstran yang sebagian besar terdiri dari penggerak muda yang mencoba memukul tertinggal dengan payung-payung. Sebagian melemparkan botol plastik, dalam unjuk rasa dengan dilakukan di tengah larangan berkumpul.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha memperingatkan jam malam mungkin bakal diterapkan dan dia tetap menolak seruan untuk mundur.

Para pengunjuk menikmati juga menuntut reformasi monarki Thailand dengan membatasi kekuasaan raja.

Kementerian perekonomian digital menyebutkan konten petisi di Change. org melanggar aturan akta kejahatan komputer Thailand.

Raja Vajiralongkorn dikritik para pengunjuk rasa karena menghabiskan lebih banyak waktu di Jerman sejak mulai bertahta pada 2016.

Tuntutan itu telah diisi oleh kira-kira 130. 000 penandatangan sebelum diblok oleh pemerintah.

Langkah itu dilakukan pada tengah protes pro-demokrasi terbesar pertama dalam beberapa tahun terakhir.

Kamis (14/10) lalu, negeri Thailand mengumumkan dekrit darurat buat menanggapi serangkaian protes yang berlaku di Bangkok, termasuk dengan melarang kerumunan orang lebih dari 4 orang dan pembatasan media.

Sekitar 20 aktivis ditangkap.

Sebuah pengumuman yang dibacakan oleh polisi dalam siaran televisi menyatakan “banyak kelompok-kelompok orang sudah mengundang, menghasut dan melakukan pertemuan di tempat-tempat umum yang menentang hukum di Bangkok”.

Dikatakan langkah-langkah penting diperlukan untuk “menjaga perbaikan dan ketertiban”.

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript ataupun coba di mesin pencari asing

Pemberitahuan yang ditayangkan di televisi negeri itu mengatakan pengunjuk rasa sudah “memicu kekacauan dan keresahan publik”.

Maklumat itu menyebut bahwa pengunjuk menemui yang menghadang iring-iringan kerajaan dalam hari Rabu sebagai alasan kesimpulan tersebut.

Para pengunjuk rasa, yang didorong mundur oleh jajaran polisi, memberikan hormat tiga jari dengan telah menjadi simbol gerakan penentangan saat ratu berada di pada kendaraan yang menelusuri Bangkok.

Keputusan kritis itu mulai berlaku pada pukul 04: 00 waktu setempat di hari Kamis (15/10).

Selain membatasi uni hingga maksimal empat orang, kesimpulan tersebut membatasi media.

Yaitu, melarang “publikasi berita, media lain, dan bahan elektronik yang berisi pesan dengan dapat menimbulkan ketakutan atau berniat memutarbalikkan informasi, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang akan memengaruhi keamanan ataupun perdamaian nasional dan ketertiban “.

Kesimpulan itu juga memungkinkan pihak berwenang untuk menghentikan orang-orang memasuki “daerah mana pun yang mereka tunjuk”, menurut laporan kantor berita Reuters.

Putaran protes yang dipimpin oleh mahasiswa, yang dimulai pada Juli & terus berkembang, telah menjadi tantangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir bagi penguasa Thailand.

Serangkaian protes selama akhir pekan di ibu kota adalah beberapa yang terbesar dalam beberapa tahun, dengan beribu-ribu menentang pihak berwenang untuk berhimpun dan menuntut perubahan.

Pihak berwenang mengucapkan 18. 000 orang bergabung dalam demonstrasi hari Sabtu, meskipun dengan lain memberikan angka yang lebih tinggi. Banyak yang tetap melanjutkan protes hingga Minggu.

Seruan para pengunjuk rasa untuk reformasi kerajaan benar sensitif di Thailand, di mana kritik terhadap monarki dapat dihukum dengan hukuman penjara yang lama.

Barang apa kejadian terbaru di Bangkok?

Penjaga anti huru hara Thailand memburbarkan pengunjuk rasa yang berkumpul pada luar kantor perdana menteri tak lama setelah keputusan darurat aci pada Kamis pagi.

Sejumlah pengunjuk menemui mencoba melawan, menggunakan barikade kreasi, tetapi mereka didorong mundur, serupa yang dilaporkan kantor berita Reuters.

Ratusan polisi terlihat di jalanan-jalanan setelah pengunjuk rasa dibubarkan.

Beberapa pengacara Thailand yang menaruh perhatian terhadap rumor hak asasi manusia mengatakan tiga pemimpin protes telah ditangkap. Petugas belum mengomentari klaim ini.

Mengapa tersedia protes?

Thailand memiliki sejarah panjang soal kerusuhan politik dan protes, namun sebuah gelombang baru dimulai pada Februari setelah pengadilan memerintahkan golongan oposisi pro-demokrasi yang masih perdana terbentuk untuk dibubarkan.

Future Forward Party (Partai Lulus Masa Depan) telah terbukti sangat populer di kalangan muda, pemilih pemula dan memperoleh bagian terbesar ketiga dari kursi parlemen dalam pemilihan Maret 2019, yang dimenangkan oleh kepemimpinan militer yang sedang menjabat.

Protes dihidupkan kembali pada bulan Juni kala aktivis pro-demokrasi terkemuka Wanchalearm Satsaksit hilang di Kamboja, tempat berada di pengasingan sejak kudeta militer 2014.

Keberadaannya tetap tidak diketahui dan pengunjuk rasa mendakwa pemerintah Thailand mengatur penculikannya – sesuatu yang telah dibantah oleh polisi dan pemerintah. Sejak Juli protes yang dipimpin mahasiswa dengan rutin terjadi.

Para pengunjuk rasa menuntut agar pemerintah yang dipimpin sebab Perdana Menteri Prayuth, mantan pemimpin angkatan darat yang merebut adikara dalam kudeta, dibubarkan; untuk konstitusi akan ditulis ulang; untuk bagian berwenang berhenti melecehkan para kritikus.

Apa yang terjadi jelang dekrit?

Sebelumnya, pengunjuk rasa prodemokrasi di Thailand berhadap-hadapan dengan iring-iringan kendaraan yang membawa Maha Vajiralongkorn dan permaisuri Ratu Suthida ketika rombongan melewati pawai umum di ibu kota Thailand, Bangkok pada Rabu (14/10).

Tetapi massa berhasil dipukul mundur oleh barisan kepolisian dan tidak sampai menghentikan iring-iringan itu. Ketika raja lewat, mereka mengangkat salam 3 jari yang telah menjadi simbol gerakan protes.

Mereka menuntut pengunduran muncul Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan menuntut pembatasan kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn.

Protes hari ini digelar bersamaan dengan kunjungan raja ke suatu upacara Buddha di Ratchadamnoen Avenue, tempat demonstrasi digelar.

Biasanya ia menghabiskan sebagian besar waktunya dalam Jerman dan telah kembali dibanding negara itu.

Raja tampak duduk di mobil beserta permaisuri Ratu Suthida.

Mobil tersebut melewati massa yang meneriakkan yel-yel dan mengangkat salam tiga jari. Salam tersebut diyakini terinspirasi sebab film-film Hunger Games, yang memakai salam itu sebagai simbol asosiasi dan penentangan.

Pengunjuk rasa sebelumnya berjanji tidak akan memblokir iring-iringan yang membawa raja dan mereka terbukti menepati janji itu.

Protes tandingan dari grup baju kuning

Kelompok pendukung raja pula menggelar demonstrasi tandingan untuk membuktikan dukungan kepada monarki.

Mengenakan baju kuning, warna yang digunakan kerajaan, mereka melakukan unjuk rasa pada kawasan yang sama dengan kelompok prodemokrasi, walau berada di titik berbeda.

Kedua kelompok dipisahkan oleh orkes polisi.

Beberapa pemrotes berbaju kuning terekam menyerang pengunjuk rasa prodemokrasi. Menurut sejumlah saksi mata, pemerintah menyamarkan polisi jadi pengunjuk rasa pendukung raja.

“Kami mau menunjukkan bahwa kami mencintai ayah, ” kata Sirilak Kasemsawat pada kantor berita AFP. Ia menduga gerakan prodemokrasi hendak “menggulingkan” monarki, tuduhan yang selalu ditepis oleh kelompok prodemokrasi.

“Kami tidak meminta mereka dilengserkan, dilupakan atau tidak dihormati, ” kata Dear Thatcha, seorang peserta unjuk rasa dari klan prodemokrasi.

“Kami meminta mereka berubah bergabung kami. Negara kita perlu menyelaraskan diri dengan banya hal, & monarki adalah salah satu rumor yang juga perlu disesuaikan, ” tambahnya.

Seruan reformasi di tubuh negeri merupakan isu sangat sensitif pada Thailand, dan mereka yang mengecam monarki dapat dihukum penjara yang lama.

Selama beberapa bulan terakhir, penentangan digelar untuk menyerukan pengunduran muncul Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha yang mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 2014 dan memenangkan pemilu tarikh lalu meskipun hasilnya disengketakan.

Beberapa warga juga mendesak reformasi monarki, meskipun seruan tersebut dapat diperkarakan berdasarkan undang-undang pencemaran nama cantik kerajaan yang ketat di Thailand.