Bubuk Bakar Ba’asyir ‘dibebaskan’, keluarga mau ‘jauhkan dari paham tak betul termasuk ISIS’, korban Bom Bali ‘berusaha memaafkan’

Salah seorang putra Abu Bakar Ba’asyir, dengan telah dibebaskan dari penjara, mengucapkan keluarga akan berupaya agar mantan narapidana terorisme ini jauh “dari pemahaman-pemahaman tidak benar, termasuk ISIS. ”

Ba’asyir pernah tergabung pada Jemaah Islamiyah, kelompok yang bertanggung jawab atas sejumlah serangan tercatat Bom Bali 1, serangan teror terparah di Indonesia. Ba’asyir serupa mengikuti baiat untuk kelompok dengan menamakan diri negara Islam, atau ISIS.

Putra Ba’asyir, Abdul Rohim mengatakan, “Pada prinsipnya kami tidak secara spesifik akan mengatakan menjauhkan sebab ISIS atau kalangan tertentu. Apapun pemikiran, apapun cara berpikir dengan tidak benar, baik itu berlebihan atau ektremisime atau apapun namanya itu. ”

“Apakah ISIS atau dengan lain akan diupayakan oleh bagian keluarga semampunya untuk memberikan penjelasan dan berupaya untuk menjauhkan sebab pemikiran demikian. ”

“Ketika kita kembali dengan benar dan ilmu yang luas maka mau terjadi keseimbangan dalam berpandangan, siapapun itu. Maka upaya itu yang akan dilakukan, ” kata Abdul Rohim kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq yang melaporkan buat BBC Indonesia.

Korban Bom Bali 1, “was-was”, PM Australia “sangat menyentuh bagi korban”

Sementara itu, sejumlah target Bom Bali memberi tanggapan berbeda atas pembebasan Abu Bakar Ba’asyir. Salah seorang di antara mereka mengaku was-was, namun dia akan berupaya memaafkan pria tersebut.

Pria berumur 82 tahun itu dianggap jadi pemimpin spritual Jemaah Islamiah (JI), sebuah kelompok yang terinsipirasi al-Qaeda dan melakoni serangan bom pada Bali pada 2002 sehingga menewaskan 202 orang.

Theolina Marpaung, Penulis Paguyuban Korban Bom Bali, mengaku risau dengan pembebasan Abu Mengobarkan Ba’asyir.

“Sebagai masyarakat saya sedikit was-was dengan keluarnya beliau karena apa yang dia lakukan sebelumnya. Rasa was-was itu juga tidak mampu saya pendam terus. Saya angkat juga dalam doa, semoga beliau menjadi lebih baik lagi, ” kata Theolina kepada wartawan pada Bali, Anton Muhajir, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Theolina meminta agar Ba’asyir dan semua karakter Bom Bali yang sudah keluar dari penjara agar tetap diawasi.

Situasi senada diutarakan Garil Arnandha, dengan ayahnya meninggal dunia akibat ledakan Bom Bali pada 2002.

“Saya berniat pemerintah harus benar-benar mengawasi secara penuh segala kegiatan beliau agar menjaga keamanan negara, ” paparnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

Dia sejatinya tidak akur Ba’asyir dibebaskan karena, menurutnya, dengan bersangkutan “masih sangat berbahaya & berpotensi akan menghidupkan terorisme di Indonesia”.

Untuk memutar video tersebut, aktifkan JavaScript atau coba pada mesin pencari lain

“Bahkan semenjak dipenjara pun dia menolak mengikuti progam deradikalisasi dari pemerintah. Dan pada tahun 2019 ketika akan dibebaskan dengan program pembebasan bersyarat dia menolak karena enggan mendatangani dokumen setia Pancasila dan NKRI, ” jelasnya.

Baik Ba’asyir disebut-sebut tak lagi memiliki pendukung sebanyak dulu, Garil mewanti-wanti para pendukungnya “adalah manusia dengan jika dipengaruhi hal-hal negatif bisa berbuat apa saja”.

Berusaha memaafkan

Secara pribadi, Theolina menegaskan dirinya akan mencari jalan memaafkan Ba’asyir, walau mengalami melempem akibat insiden Bom Bali.

“Saya tunggal sudah berjanji dalam iman aku sejak 2002. Waktu itu ke-2 mata saya sakit sekali, begitu juga wajah saya. Saya sudah memakai pain killer , tetapi tidak sembuh-sembuh. Saya kemudian berdoa kepada Tuhan agar supaya sakitnya diambil. Saya bernadzar kalau Tuhan membuang rasa sakit ini, saya bakal lakukan apapun yang Tuhan perintahkan.

“Jadi, walaupun bagi orang lain sulit memaafkan, saya akan berusaha (memaafkan) karena saya sudah berjanji, ” paparnya.

Endang Isnanik, ibu Garil Arnandha, mengatakan bahwa dirinya “sudah memaafkan”.

“Dia sudah menjalani hukuman atas perbuatannya. Saya berharap mereka benar-benar balik ke jalan yang benar. Kewaswasan tetap ada, tapi positi ve thinking saja, ” katanya.

Di Australia, Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan pembebasan “sangat menyedihkan” bagi para sanak darah. Namun ia menambahkan “itu isu sistem kehakiman Indonesia. ”

“Langkah itu tak mudah bagi warga Australia manapun untuk menerimanya. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga Australia sekarang bebas, ” tambahnya.

Dibanding 202 korban Bom Bali 1, 88 di antaranya orang Australia.

Baasyir tunggal telah berada di Pondok (Ponpes) Islam Al Mukmin Ngruki, Cemani, Sukoharjo, Jumat (08/01), kaum jam setelah dibebaskan dari Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat.

Iring-iringan rombongan mobil yang membawa Abu Bakar Ba’asyir sampai di Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki sekitar jam 13. 37 WIB. Ba’asyir dengan didampingi oleh putranya Abdul Rohim Ba’asyir itu tampak melambaikan tangan saat akan memasuki pintu gerbang sebelah utara ponpes.

Setelah masuk pelik ponpes, Ba’asyir langsung turun dan mobil dan menyambangi kediamannya dengan terletak di selatan Masjid Baitusalam. Kemudian, ia langsung keluar rumah dan menuju masjid dengan kursi roda.

Abdul Rohim mengatakan setelah selamat dan tiba di rumah, Ba’asyir ingin beristirahat dan berkumpul dengan keluarga terlebih dahulu. Sedangkan rencana pertemuan dengan tokoh, ia mengiakan tidak ada agenda pertemuan itu.

“Sampai sekarang tidak ada agenda tersebut (pertemuan denga tokoh) dan belum mengagendakan pertemuan yang sifatnya gembung. Saat ini agenda selanjutnya, ustaz Abu intinya istirahat di vila setelah perjalanan jauh, ” ucapnya, sebagaimana dilaporkan wartawan di Tunggal, Fajar Sodiq, kepada BBC News Indonesia.

Pada pernyataan tertulis, Mujiarto selaku Besar Lapas Khusus Klas IIA Bukit Sindur, mengatakan Ba’asyir dibebaskan setelah melewati proses administrasi dan protokol kesehatan pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Menurutnya, Ba’asyir telah menjalani rapid test antigen dan hasilnya negatif.

“ABB [Abu Bakar Ba’asyir] diserahterimakan dengan pihak keluarga dan tim pengacara yang datang menjemput, dengan langgeng menerapkan protokol kesehatan yang dalam antaranya adalah membawa surat buatan Tes Swab COVID-19 negatif, ” sebut Mujiarto.

Ditambahkannya, perjalanan Ba’asyir menuju kediaman di Sukohardjo, selain didampingi keluarga dan tim pengacara, pula dilakukan pengawalan oleh Densus 88 dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Pembebasan Ba’asyir dibenarkan juru kata Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Endro Sudarsono.

BBC News Indonesia menerima foto dengan memperlihatkan Abu Bakar Ba’asyir sudah berada di dalam sebuah mobil bersama empat orang lainnya. Salah satunya adalah putranya, Abdul Rochim.

Sebelumnya, Besar bagian humas dan protokol Direktorat Jenderal Permasyarakatan, Rika Aprianti mengucapkan Abu Bakar Ba’asyir akan bebas “sesuai dengan tanggal ekspirasi ataupun berakhirnya masa pidana”.

Ba’asyir telah melaksanakan hukuman selama 11 tahun lantaran 15 tahun vonis hukuman kurungan karena dinyatakan bersalah dalam kasus mendanai pelatihan terorisme di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia pada Juni 2011.

Ba’asyir mendapat total remisi sebanyak 55 bulan, berisi dari remisi umum, dasawarsa, istimewa, Idul Fitri dan remisi kecil.

Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan berkomplot dalam peristiwa terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006, ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan dakwaan terkait pendirian kelompok militan dalam Aceh.

Ba’asyir mendirikan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) setelah keluar dari Jamaah haji Islamiah, yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 serta beberapa kasus terorisme.