Covid-19: Mengapa Secapa AD masih menggelar pembelajaran tatap muka?

Transmisi Covid-19 di institusi pendidikan tentara Sekolah Calon Perwira TNI Laskar Darat (Secapa AD) dan Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD menjadi sorotan. Bertambah dari 1. 300 orang dikonfirmasi positif Covid-19 dan berisiko menularkannya pada masyarakat di sekitar madrasah.

Pengamat militer Universitas Padjajaran, Muradi mencurigai penularan yang berlaku di institusi pendidikan militer seolah-olah Secapa AD sebagai indikasi adanya ‘pelanggaran’.

“Di Secapa saya terkejut karena yang kena hampir semua pasis (perwira siswa), artinya tersedia penularan yang sistematis, ada pengangkut virus yang sistematis, ” kata dosen tamu di sejumlah sekolah militer dan polisi ini.

Sementara Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa menyatakan telah menerapkan protokol kesehatan di seluruh lembaga pendidikan militer di Indonesia, sejak Maret lalu. Namun, menurutnya, banyak faktor penyebab yang bisa mencetuskan kasus positif corona di lembaga pendidikan militer.

“Saya tidak akan sombong tahu untuk menentukan sumbernya tersebut dari mana karena begitu banyak kemungkinan dan variabel. ”

Yang pasti, menyusul terungkapnya klaster Secapa AD di Bandung, Jawa Barat, 500 warga kota Bandung, Jawa Barat diminta menjalani uji usap ( swab test ) untuk memastikan tak ada penularan Covid-19 di luar kompleks lembaga pendidikan militer itu. Demikian laporan Yuli Saputra, wartawan di Bandung, Jawa Barat untuk BBC Nusantara.

Tes ini digelar pemerintah Tanah air Bandung bekerja sama dengan bank pemerintah pada Sabtu (11/07).

Lantaran 500 warga yang dites, 28 orang di antaranya adalah masyarakat kawasan Hegarmanah, kawasan sekitar kompleks Secapa AD.

Sebelumnya, 21 awak Hegarmanah juga sudah diminta mengabulkan tes cepat. Rencananya, Dinas Kesehatan Kota Bandung akan kembali menerapkan rapid tes di sekitar Secapa AD.

Klaster Covid 19 Secapa AD menjadi viral di media baik. Bahkan muncul pesan berantai di aplikasi pesan singkat berisi kekangan mengunjungi sebuah supermarket di negeri sekitar Secapa AD.

“Sementara ini jangan ke toko itu dulu, karena di Secapa ada 400-an siswa yang positif corona, ” isi pesan tersebut.

Nana Jeany Suprayogi, warga Hegarmanah, merasakan tepat dampak dari munculnya kasus positif Covid-19 di Secapa AD, yang jaraknya sekitar 1, 5 kilometer dari rumahnya. Ia dan suku waswas tertular virus corona. Akan tetapi di sisi lain, keluarganya “dijauhi” kerabat karena kuatir menularkan virus itu.

“Keluar rumah jadi takut. Akan tetapi, keluar rumah juga malah kita yang ditakuti, seolah kita jadi pembawa virus. Udah mah kitanya enggak jelas, enggak ada maklumat (dari aparat setempat) kita harus gimana. Kita juga merasa kewaswasan orang terhadap kondisi kita, dan mereka juga sepertinya menghindari ketemu kita. Itu jadi bikin sedu juga, ” ungkap perempuan 46 tahun ini.

Nana menyebutkan, ada sejumlah warga Hegarmanah yang mengungsi, terutama yang tinggal di dalam komplek Secapa AD. Masjid dalam lokasi tersebut juga kembali ditutup.

“Kayak teman aku yang punya budak di kompleks Secapa, keluarganya udah dipindahin, ” kata Nana.

Tapi, maka Sabtu (11/07), Nana belum melihat ada penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro, PSBM di wilayah Hegarmanah seperti yang disebutkan Wali Praja Bandung, Oded M. Danial kurang waktu lalu.

Seluruh akses menyelundup ke Hegarmanah masih dibuka, melainkan akses menuju Secapa AD dengan sedang melaksanakan karantina wilayah.

Tidak seperti Nana, Lili Koswara justru berpose biasa saja menanggapi kasus nyata Covid 10 Secapa AD.

“Biasa-biasa saja. Kekhawatiran pasti ada, tapi enggak terlalu serius. Semua orang sah kekhawatiran (tertular) ada, ” pikiran Lili enteng.

Apalagi, kata Lili, suasana di Secapa AD juga terlihat aman-aman saja. Bahkan saat kunjungan KSAD TNI, Jenderal Andika Bagak, warga diperbolehkan masuk ke kompleks Secapa untuk berjualan. Padahal, kompleks Secapa AD termasuk zona merah yang sedang melaksanakan karantina provinsi.

“Lihat di Secapa-nya sendiri aman-aman selalu. Seperti tadi, ada acara ramai-ramaian, bahkan yang jualan diperbolehkan ke sana. Makanya, kalau khawatir, satu (dari sepasang) mananya. Tapi jaga-jaga harus. Awak yang masuk tetap pakai kedok, protokolnya tetap dipakai, ” perkataan Lili.

Lili, Ketua RW 08 Kelurahan Hegarmanah, mengimbau warga untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Ia juga telah meminta sejumlah warga mengikuti tes cepat dan uji usap dengan difasilitasi pemerintah kota Bandung.

“Ada 18 orang yang ikut tes. Sepuluh orang rapid tes t , delapan swab . Senin besok juga diminta 20 orang ikut tes di NHI (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung), tapi baru dapat lima orang. Warga ada yang mau (ikut tes), ada yang enggak. Alasannya sebab kerja, ” ujar Lili Koswara.

Sejauh ini, Lili belum menerima laporan ada warganya yang positif Covid-19.

Penyelidikan epidemiologis terkait kasus tentu Covid 19 di Secapa AD telah dilakukan pada tanggal 29 Juni dan 7 Juli 2020 berupa uji usap massal & pelacakan kontak. Namun, sumber transmisi masih belum diketahui.

“(Pelacakan kontak) ana sudah lakukan sehingga begitu dilaporkan ada dua positif Covid-19, tepat kami rapid test semua. Itu salah satu usaha. Kita tak mau ambil risiko. Kita lacak semuanya yang bergaul dengan (yang positif) ini, ” kata KSAD Jenderal Andika Perkasa.

Tersedia indikasi pelanggaran

Selain Secapa AD, kasus positif Covid 19 juga ditemukan di Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD pada Kota Cimahi dengan jumlah 101 orang prajurit positif Covid-19, terdiri dari 25 orang staf dan anggota Pusdikpom dan 76 karakter siswa.

Pada bulan April sempat juga terjadi penularan Covid-19 di Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri pada Sukabumi. Saat itu 300 orang siswa dinyatakan positif corona setelah menjalani tes cepat

Munculnya klaster Covid 19 di sekolah-sekolah kedinasan dalam Jawa Barat menimbulkan pertanyaan melanda penerapan protokol kesehatan dalam menghalangi penularan virus corona di madrasah kedinasan itu.

KSAD Jenderal Andika Perkasa mengaku telah menerapkan adat kesehatan di seluruh lembaga pelajaran militer di Indonesia, sejak Maret lalu. Namun, menurutnya, banyak faktor penyebab yang bisa mencetuskan kejadian positif corona di institusi pelajaran militer.

Dia berkata, misalnya, di Secapa AD, para siswa sulit menerapkan protokol kesehatan secara selektif lantaran tinggal dalam satu bangsal. Ada 29 barak untuk menampung 1198 perwira siswa.

“Ini ialah pelajaran bagi kami. Kita sudah lakukan beberapa evaluasi, termasuk semakin sering lakukan penyemprotan disinfektan, tak hanya di luar, tapi serupa ke dalam ruangan. Itulah lengah satu cara, walaupun dengan cara itu pun kita tidak mampu menjamin bahwa kita tidak bakal pernah kena kasus Covid, ” ungkapnya.

Tapi, pengamat militer, Muradi memperhitungkan ada indikasi pelanggaran terkait munculnya kasus positif di lembaga pelajaran militer.

“Ada sesuatu yang dilanggar, ” kata Muradi melalui sambungan telepon, Sabtu (11/07).

Sesuatu yang dilanggar tersebut, kata Muradi, adalah arahan presiden untuk melaksanakan bekerja di panti dan belajar di rumah yang diterapkan selama pandemi Covid 19.

“Kan dari awal sudah ditegaskan bahwa semua itu dalam posisi work from home dan studying from home . Saya mengemong di Sesko AD, Sesko TNI memang pakai Zoom. Jadi kami agak terkejkut di Secapa sedang terjadi begitu (belajar tatap muka). ”

“Makanya, kalau tiba-tiba semakin besar (kasus positif corona), tersedia yang salah dalam tata kelola pengajaran dan pembinaan dalam situasi pendidikan. ”

“Di Secapa saya termenung karena yang kena hampir semua pasis (perwira siswa), artinya ada penularan yang sistematis, ada carier yang sistematis, ” kata pendidik tamu di sejumlah sekolah militer dan polisi ini.

“Kalau buat aku sebenarnya ada yang salah, apakah kemudian itu modelnya inisiatif, pada luar yang sudah diarahkan sebab presiden, Panglima, atau Kapolri. ”

Muradi menduga, ada dua hal yang memicu pelanggaran tersebut, yakni keterbatasan sumber daya manusia atau infrastruktur yang tidak memadai untuk mewujudkan pembelajaran daring di Secapa AD dan Pusdikpom TNI AD.

“Saya menebak ada dua, pertama soal keterampilan sumber daya manusia untuk mengoperasikan belajar dari rumah, yang ke-2 kesiapan infrastruktur. Makanya, mereka memaksa pascalebaran bertemu. ”

“Kalau hitung pandeminya 14 hari tambah 14 hari, sudah satu bulan mereka berhimpun, artinya pertengahan Juni sudah masuk, kumpul lagi dan sebagainya, ” kata Muradi.

Kemampuan sumber daya pribadi yang dimaksud Muradi adalah keterbatasan para siswa Secapa AD meminta materi pendidikan secara daring.

Pada lain pihak, mereka tidak mempunyai daya tawar untuk menolak pembelajaran tatap muka. Menurut Muradi, pertarungan untuk menjadi seorang perwira berlaku sangat ketat, baik di pranata TNI ataupun Polri.

“Secapa ini bintara yang mau jadi perwira. Mereka betul-betul ditempa, upayanya begitu luar biasa. Kalau tiba-tiba sudah puluhan tahun jadi bintara, kemudan tersedia kesempatan sekolah, saya akan perjuangkan betul. Apalagi di TNI tersedia bottle neck , yang lolos sedikit. ”

“Saya mengalami psikologis mereka. Kalau ditakut-takuti, dengan tidak datang akan dicoret, penukar yang baru, mau apa? ”

“Kan antre. Mereka harus menghabisi sekian ribu calon untuk lulus menjadi sekitar 900 orang bahan perwira. Ini pertaruhan luar biasa. Ketimbang dicoret ganti yang anyar, mulai dari nol lagi, ” tutur dosen ilmu politik kalender pascasarjana Universitas Padjajaran ini.

Muradi meyatakan KSAD yang bertanggung pikiran atas izin pembelajaran tatap depan.

“KSAD, dia yang menandatangani, menyampaikan rekomendasi dan izin untuk (pembelajaran tatap muka). Langkah Andika relatif baik dengan mendatangi, mengunjungi Secapa dan Pusdikpom TNI AD. Itu suatu bentuk pengakuan dia bersalah, ” kata Muradi.

Sementara KSAD Jenderal Andika Perkasa menyebutkan, aktivitas pada sekolah kedinasan seperti Secapa AD juga dipengaruhi oleh kebijakan negeri daerah di masa pandemi Covid 19.

“Aktivitas di semua lembaga pendidikan itu bergantung pada situasi yang diterapkan oleh pemerintah daerah. Tersedia daerah yang masih PSBB, ada yang sudah tidak, ada yang sekarang pembatasan sosial berskala mikro dan seterusnya, ” ujar Andika.

Sedangkan mengenai sumber penularan KSAD membuktikan banyak sekali kemungkinan dan variabel sehingga sumber penularan sulit terlihat.

Lingkungan Secapa AD, menurut Andika, tak hanya dihuni oleh siswa dan staf saja, tapi juga susunan keluarga staf yang punya pekerjaan di luar kompleks Secapa AD.

Di samping itu, siswa perwira memiliki hak pesiar satu hari dalam seminggu yang memungkinkannya berinteraksi dengan masyarakat di luar Secapa AD.

“Saya tidak akan sok tahu untuk menentukan sumbernya tersebut dari mana karena begitu penuh kemungkinan dan variabel, ” kata pendahuluan KSAD.

Berawal dari bisul

Terungkapnya kejadian positif di Secapa AD itu disebut KSAD sebagai kasus yang “diawali ketidaksengajaan. ”

Dua minggu semrawut tepatnya tanggal 27 Juni 2020, dua orang perwira siswa Secapa AD di Kota Bandung berobat ke Rumah Sakit Dustira di Kota Cimahi. Satu orang siswa mengalami demam karena bisul di tubuhnya, sedangkan seorang lagi menemui gangguan di tulang belakangnya.

Bertemu protokol saat pandemi Covid-19, ke-2 siswa itu harus menjalani uji usap. Dua prajurit TNI AD itu lantas dinyatakan positif Covid-19.

Andika mengklaim, sejak mendapat laporan peristiwa positif pertama itu, dia langsung memerintahkan tes cepat massal bagi siswa, staf dan pelatih. Tempat berkata saat itu mengirimkan 1400 alat tes. Hasilnya uji massal itu, 187 orang dinyatakan reaktif.

Buat hasil yang lebih akurat, itu menggelar uji usap. Dari penjagaan itu ditemukan 1. 280 urusan positif Covid-19.

“Dari jumlah itu 991 adalah perwira siswa, sedangkan sisanya, adalah staf anggota dari Secapa AD beserta keluarganya. Ada enam orang anggota keluarga diantara 289 itu, ” kata Andika zaman jumpa pers di Makodam III Siliwangi, Jalan Aceh Kota Bandung, Sabtu (11/07).

Awalnya, ada 30 karakter yang dirawat di RS Dustira. Yang menjalani rawat inap kini tinggal 17 orang dan kepala di antaranya telah dinyatakan minus.

Sementara seribu lebih orang yang lain diminta menjalani isolasi di lingkungan Secapa AD. Kawasan pendidikan tersebut ditutup untuk karantina sejak dinyatakan sebagai klaster Covid-19.

“Semua masuk bagian ringan, bahkan tidak ada bagian sedang, apalagi berat, ” membuka Andika, mantan Pangkostrad.