Covid 19: Peneliti Brasil klaim efikasi vaksin Sinovac di atas 50%, hasil uji coba dinilai tidak transparan

Peneliti di Brasil mengklaim vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan vaksin China, Sinovac Biotech, “mencapai ambang batas efikasi” yang ditetapkan WHO, atau lebih sebab 50%, berdasarkan data uji jika yang dirilis Rabu (23/12).

Tetapi sekali lagi, para peneliti Institut Butantan di Brasil menangguhkan pengumuman hasil pasti tingkat efikasi vaksin atas permintaan perusahaan, yang mendatangkan pertanyaan tentang transparansi pengembangan vaksin tersebut.

Sinovac Biotech menunda pemberitahuan hasil dari uji coba periode akhir vaksin Covid-19 hingga Januari demi mengkonsolidasikan data yang didapat dari Brasil dengan hasil uji dari Indonesia dan Turki.

Hasil uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac di Indonesia hingga kini belum diumumkan. Ada lebih dari 1. 600 relawan yang telah disuntik dengan vaksin Sinovac.

Selain itu ada 1, 2 juta dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang telah diimpor & kini disimpan di ruangan penyimpanan Bio Farma, Bandung.

Adapun, ambang batas efikasi atau kemanjuran vaksin yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 50%.

“Kami mencapai ambang kemanjuran yang memungkinkan ana untuk mencari persetujuan penggunaan darurat” otorisasi dari badan pengawas [kesehatan] Brasil Anvisa, introduksi direktur Institut Butantan, Dimas Covas, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Institut Butantan menolak untuk mengungkap angka pasti dari efikasi vaksin dengan mereka uji coba pada 13. 000 relawan, dengan alasan terikat kontrak dengan Sinovac.

“Tidak kira-kira ada tiga hasil efikasi buat vaksin yang sama, ” prawacana Covas.

Ia mengatakan penundaan itu tidak ada hubungannya dengan efikasi vaksin, yang diharapkan menjadi lengah satu yang pertama disetujui buat digunakan di Brasil.

Sama dengan WHO, badan pengawas kesehatan Argentina, Anvisa, menetapkan ambang batas efikasi setidaknya 50% untuk vaksin selama pandemi.

Pejabat kesehatan mengatakan hasil uji klinis dalam Brasil itu menjadi “momen untuk dirayakan”.

“Tujuan kami adalah mencapai lebih dari 50%. Jika jumlahnya 51%, itu akan menjadi istimewa bagi kami, terutama karena saya hidup di saat krisis kesehatan, ” kata pejabat kesehatan Sao Paulo, Jean Gorinchteyn, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.

Menuai pertanyaan tentang kejernihan

Direktur Butantan Dimas Covas mengatakan tidak ada relawan yang divaksinasi dalam uji coba di Brasil yang mengalami gejala Covid-19 yang parah.

Menurutnya, hal itu berkontribusi pada optimisme tentang kemanjuran vaksin tersebut.

Pakar imunologi Cristina Bonorino, yang juga anggota komite keilmuan Masyarakat Imunologi Brasil menganggap minimnya kasus yang parah dalam tes klinis “akan sangat berguna untuk memerangi pandemi”.

Namun, penundaan maklumat hasil uji klinis tahap simpulan ini ia sebut “merusak cermin vaksin”.

“Mereka seharusnya tidak menunjukkan sesuatu dengan pada akhirnya tidak mereka laporkan. Itu masalah yang lebih gede, ”

Brasil adalah negara baru yang menyelesaikan uji coba tahap akhir vaksin Sinovac yang dikenal CoronaVac, tetapi pengumuman hasilnya, dengan mulanya dijadwalkan pada awal Desember, telah ditunda tiga kali.

Penundaan terbaru merupakan pukulan bagi Beijing, dengan terus berlomba untuk mengejar ketertinggalan dari produsen vaksin rivalnya serta akan menambah kecaman bahwa perakit vaksin dari China kurang transparan.

Hal ini selalu kemungkinan akan meningkatkan skeptisisme terhadap vaksin China di Brasil.

Presiden Jair Bolsonaro, seseorang yang skeptis akan virus corona yang mengatakan dia tidak akan menerima vaksin Covid-19, telah berulang kali mempertanyakan vaksin China berdasarkan “asal-usulnya”.

Sebuah jajak pendapat awal bulan ini membuktikan bahwa setengah dari warga Negeri brazil menolaknya.

Hasil positif para rival

Sinovac menjadi produsen vaksin China ke-2 yang mengumumkan hasil dari uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya, Bon Emirat Arab mengumumkan vaksin lantaran perusahaan vaksin China, National Pharmaceutical Group (Sinopharm) yang berbasis pada Beijing, memiliki kemanjuran 86%.

Vaksin saingan yang dikembangkan oleh AstraZeneca, Pfizer dan Moderna juga telah melahirkan hasil yang positif.

Vaksin Pfizer, yang dikembangkan secara mitra dari Jerman, BioNTech, adalah vaksin Covid-19 pertama yang sepenuhnya teruji, dengan vaksinasi yang sudah dimulai di Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada.

China telah memberikan vaksin virus corona eksperimental, termasuk suntikan yang dikembangkan oleh Sinovac, pada kelompok berisiko tinggi di negeri itu sejak Juli di lembah program penggunaan darurat.

Sinovac telah memperoleh kesepakatan pasokan untuk vaksinnya dengan beberapa negara termasuk Indonesia, Turki, Brasil, Chili dan Singapura, serta sedang mengadakan pembicaraan dengan Filipina dan Malaysia untuk potensi penjualan.