‘Geger klepon tidak Islami’, benarkah ada ‘makanan syariah’ dalam ajaran Islam?

  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesia

Klepon, kudapan tradisional dari Pulau Jawa, mendadak menjadi viral setelah sebuah unggahan di media sosial melabeli cemilan tersebut “tidak Islami. ”

Kata ‘klepon’ menjadi trending di Twitter Indonesia sampai Rabu (22/07) pagi. Berasal dari sebuah foto klepon diberi narasi ‘kue klepon tidak Islami’ sembari mengajak membeli aneka kurma yang tersedia di toko syariah pengunggah. Tertulis Abu Ikhwan Aziz dalam unggahan itu.

Dosen Universitas Nadhlatul Ulama Surakarta Ahmad Faruk ‘menyayangkan’ hal tersebut, “Dalam perspektif agama Islam, tidak ada makanan syariah, lebih kepada halal barang apa haram, atau halalan toyiba barang apa tidak. ”

“Satu makanan dipandang syar’i adalah makanan itu harus sampai dari Arab, menurut saya nyana keliru juga, ” ujarnya.

Ahmad Faruk, yang juga Sekretaris Pengelola Cabang Nahdlatul Ulama Solo menguatkan lagi, “Kalau dalam agama Agama islam itu bukan makanan syar’i, akan tetapi lebih kepada apakah makanan itu halal atau haram. Makanan halal itu makanan yang dibolehkan sebab agama, seperti daging ayam, warga sapi, dan daging kambing, tengah daging anjing dan daging babi haram.

“Dalam Al-Quran sudah terang ada ayat yang mengharamkan darah, bangkai, dan daging babi dan daging anjing. ”

Pemimpin Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, lewat pesan singkat kepada BBC Indonesia mengatakan klaim klepon tidak Islami tersebut “jangan ditanggapi, abaikan saja. Itu berita liar. ”

Belum diketahui siapa yang pertama kali mengunggah foto tersebut. Menjepret itu viral setelah diunggah kembali oleh beberapa akun media baik yang memiliki jumlah pengikut penuh, baik di Twitter atau Facebook. Komentar-komentar yang muncul terkait klepon menjadi olok-olokan atau lelucon soal klaim ‘makanan non-Islami’ tersebut.

Unggahan klepon yang menjadi viral menunjukkan bahwa isu-isu terkait suku, keyakinan, ras dan antargolongan (SARA) masih mudah menyentil emosi orang & dapat digunakan untuk mengedepankan sebuah agenda tertentu, demikian menurut Aribowo Sasmito, salah satu pendiri serta ketua komite pemeriksa fakta dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

“Kalau isu SARA, itu menjadi pola misinformasi yang standar dan tipikal di Indonesia yang mampu digunakan untuk memancing emosi orang. Satu diantara tanda satir atau parodi yang sukses itu justru bila makin banyak orang yang lupa paham maka makin sukses juga parodi tersebut. Jadi salah kepala hal yang termudah membuat kecil itu adalah dengan memakai rumor SARA, karena itu membicarakan nama, ” ujar Aribowo.

Bisakah sebuah makanan dikategorikan sebagai ‘ syariah ‘?

Menurut Ahmad Faruk, sebuah hal bisa dilabeli “syariah” atau sesuai hukum Islam jika memang ada aturannya dalam Al-Quran, seperti bank syariah. Namun situasi tersebut tidak berlaku untuk sasaran.

“Bank syariah memang ada dalam agama karena ada prinsip ekonomi syariah. Sebenarnya dalam agama tersebut belum ada [hukum syariah untuk makanan], insyaallah tidak ada, karena ayatnya terang, ” kata pria yang pokok dipanggil Gus Faruk ini kepada BBC Indonesia (22/07).

Ia menyebutkan bahwa makanan halal dan haram disebutkan dalam Al-Quran, yakni Surat Al-Maedah ayat 88 dan Surat Al-Baqarah ayat 168, yang intinya menyebutkan bahwa umat Muslim harus sajian makanan yang halal, di mana untuk daging, binatangnya harus disembelih sesuai aturan agama dan hewannya tidak diharamkan. Selain itu, makanan juga harus baik, atau toyiba, artinya makanan itu harus pantas dimakan dari aspek kesehatan.

Gus Faruk menambahkan klepon, bola-bola liat yang terbuat dari tepung beras dan gula aren atau gula merah, termasuk makanan halal.

“Makanan seperti lemper, pisang goreng, arem-arem, ya itu makanan yang elok, bahan-bahannya terbuat dari bahan yang tidak diharamkan, ” ujarnya.

“Menurut saya ada beberapa aspek kok bisa muncul ‘klepon syar’i, mungkin saja itu hanya untuk branding, sebab [pengunggahnya] jualan tamar, ia ingin kurmanya laku maka jajanan yang tidak berasal sejak kurma itu dikatakannya tidak syar’i.

“Satu aspek [makanan] yang dia pandang sebagai syar’i itu adalah makanan itu kudu datang dari Arab, menurut aku agak keliru juga, ” ujarnya.

Bagaimana sejarah klepon?

Klepon ternyata sudah disebut-sebut dalam Serat Centhini, sebuah karya sastra terbesar mengenai kebudayaan Jawa yang ditulis di dalam awal abad ke-19, kata Fadly Rahman, sejarawan kuliner di Universitas Padjadjaran, Bandung.

“Di situ disebutkan klepon dipakai sebagai salah kepala bagian dari menu yang umum dihidangkan di rumah tangga orang-orang Jawa, dan juga dipakai di dalam acara tradisi selamatan, syukuran, selain sebagai kudapan yang dimakan dalam berbagai momen, mulai dari saat santai sampai tradisi-tradisi ritual, ” kata Fadly saat dihubungi (22/07).

Tradisi ritus yang dimaksud termasuk acara perjamuan dan s eren tahun, ataupun acara syukuran atas hasil panen yang melimpah pada periode terbatas, kata Fadly.

Ia memperkirakan bahwa klepon telah dikonsumsi masyarakat Jawa kuno sejak abad ke-10 Masehi. Ini karena bahan dasar klepon sama seperti kudapan seperti cendol dan dawet yang disebut dalam “prasasti kuno di masa-masa ke-10 Masehi. ”

“Walaupun klepon muncul di naskah Serat Centhini yang ditulis pada masa kala ke-19, tapi kalau dilihat lantaran segi bahan -dari tepung beras yang digunakan, lalu suji atau daun pandan sebagai pewarna serbuk beras, lalu gula merah ataupun gula aren yang digunakan jadi pemanis yang ada di pada klepon, dan parutan kelapa dengan menunjukkan klepon- ini sama bagaikan dawet dan berbagai jenis kudapan yang menggunakan bahan yang serupa, ” jelasnya.

“Ini mencirikan makanan istimewa Jawa, atau secara umum Asia Tenggara di Malaysia dan Singapura juga ada klepon, yang bisa jadi ini hasil dari diaspora kuliner Jawa ke negara tetangga. ”

Klepon diperkirakan menjadi nyamikan yang populer di masyarakat Jawa kuno karena bahan-bahannya tumbuh dalam sekitar rumah, dan cemilan tradisional itu juga menjadi bukti kreativitas masyarakat Jawa saat itu, sekapur Fadly.

“Ini selain memanfaatkan dengan optimal hasil pangan yang ada di Jawa kuno, juga membuktikan bukti kreativitas seni kuliner dengan tidak bisa dianggap enteng. Bagaimana mereka bisa memasukkan cairan manis gula aren di dalam saduran tepung beras yang kenyal & juga dipermanis dengan parutan kelapa, ” jelasnya.

Menurut Fadly, unggahan viral yang menyebut klepon sebagai makanan yang tidak Islami justru menunjukkan bagaimana “di tengah himpitan pengaruh kuliner asing dari era lalu hingga sekarang, produk seperti klepon ini masih bisa berdiam. ”

Konteks yang dipelintir

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) memasukkan unggahan soal ‘klepon kafir’ tersebut ke dalam dua dari tujuh kategori misinformasi dan disinformasi yang dimilikinya, yaitu parodi dan konteks yang dipelintir, kata Aribowo Sasmito.

Dia mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya ada klaim di internet mengenai halal atau tidaknya sepadan makanan yang jamak dikonsumsi, bagaikan isu ‘telur halal’ yang tahu bergema beberapa tahun lalu.

“Kalau diobservasi, media sosial itu wadah berkumpul orang-orang yang suka tinjauan, bermanfaat atau tidak, yang penting mereka bisa komentar dengan bermacam-macam pandangan. Ini akan kian rumit kalau dihubung-hubungkan dengan politik karena ada juga tokoh politik yang menggunakan isu ini buat menyindir lawannya. Kalau sudah mendiskusikan politik, isunya semakin rumit, ” ujar Aribowo.

Selain itu, isu SARA juga masih terus dipergunakan dalam misinformasi atau disinformasi online untuk membuat masyarakat bereaksi.

“Kalau isu SARA, itu menjadi model [misinformasi yang standar serta tipikal di Indonesia yang bisa digunakan untuk memancing emosi orang. Satu diantara tanda satir atau karikatur yang sukses itu justru kalau makin banyak orang yang lupa paham maka makin sukses juga parodi tersebut. Jadi salah kepala hal yang termudah membuat tersinggung itu adalah dengan memakai isu SARA, karena itu membicarakan individualitas, ” ujar Aribowo.

Soal ‘klepon tidak Islami’ yang viral minggu ini, ia mengatakan, jika unggahan tersebut adalah suatu bentuk parodi, maka untuk menghindari perdebatan yang panas, pengguna internet harus bisa membatasi diri dalam hal berkomentar yang dapat menyinggung orang asing.

“Memang media sosial adalah wadah berkumpulnya banyak orang, apalagi dalam masyarakat kita, bahkan ada sebutan ‘netizen +62. ‘ Bermanfaat atau tidak bermanfaat, orang akan bertambah suka komentar, namun akibatnya tidak dipikir, dan sering di jalan sosial menjadi seperti bentrok.

“Tapi memang harus dipahami ya bahwa itu adalah kebebasan berpendapat. Kalau dikaitkan dengan parodi, pembatasannya ada di diri kita masing-masing, ” imbuhnya.