Israel dan Uni Emirat Arab bekerja hubungan diplomatik, wilayah Tepi Barat urung dianeksasi, apa kata Palestina?

Israel dan Bon Emirat Arab (UEA) mencapai perjanjian bersejarah dan sepakat untuk menormalkan hubungan kedua negara.

Kesepakatan ini diumumkan oleh Presiden Amerika Konsorsium Donald Trump, hari Kamis (13/08).

Dalam pernyataan bersama Presiden Trump, Pertama Menteri Israel Benjamin Netanyahu, & Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Al Nahyan, disebutkan bahwa kesepakatan ini “diharapkan akan memajukan jalan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah”.

Secara kesepakatan ini, Israel membekukan dasar mencaplok sebagian besar wilayah Perebutan Tepi Barat.

Namun Palestina mengeluarkan hasil negatif atas perkembangan ini.

Pejabat superior Palestina, Hanan Ashrawi, dalam penjelasan di Twitter mengatakan kesepakatan itu “membuka kontak-kontak rahasia antara UEA dan Israel”.

Kepada UEA, Ashrawi mengatakan, “Tolong jangan bantu kami. ”

Klan Hamas yang menguasai Jalur Gaza menolak kesepakatan Israel-UEA dan menyebutnya sebagai “hadiah bagi pendudukan serta kejahatan yang dilakukan Israel”.

Wartawan tempat diplomatik BBC, Jonathan Marcus, mengucapkan secara umum kesepakatan Israel-UEA tidak memberikan keuntungan bagi Palestina.

Perkembangan tersebut, kata wartawan BBC, hanya hendak menimbulkan frutrasi di pihak Palestina, karena sekali lagi mereka terpinggirkan dalam upaya penyelesaian masalah Timur Tengah.

Sebelum dicapai kesepakatan, Israel tidak punya hubungan diplomatik dengan negeri2 Teluk.

Meski demikian, Israel dan negara-negara Teluk sama-sama mengkhawatirkan pengaruh Iran di kawasan, yang mendorong kontak-kontak tidak resmi antara Israel dan negara-negara Teluk.

Segera dirikan kedutaan luhur

PM Netanyahu, dalam pernyataan melalui Twitter, menggambarkan kesepakatan ini sebagai “hari yang bersejarah”.

Duta besar UEA pada Washington, Yousef Al Otaiba, mengatakan kesepakatan UEA-Israel “adalah kemenangan bagi diplomasi dan bagi kawasan”.

Ia menambahkan, “Ini kemajuan penting dalam ikatan Israel dengan negara-negara Arab, yang akan mengurangi ketegangan dan menciptakan energi baru bagi perubahan meyakinkan. ”

Kesepakatan tersebut adalah perjanjian ketiga antara Israel dan Arab semenjak Israel menyatakan diri sebagai negara independen pada 1948.

Dua kesepakatan terdahulu dicapai dengan Mesir dan Yordania, masing-masing pada 1979 dan 1994.

Di dalam beberapa pekan ke depan, wakil Israel dan UEA akan bertemu untuk menandatangani perjanjian bilateral pada bidang investasi, pariwisata, penerbangan tepat, telekomunikasi, teknologi, energi, layanan kesehatan, kebudayaan, lingkungan, dan pendirian dewan kedutaan.

Pernyataan bersama AS, Israel dan UEA juga menyebutkan Israel dan UEA akan bergabung dengan AS untuk meluncurkan “Agenda Strategis Timur Tengah”.