Kudeta militer di Myanmar: Gerakan sambutan meluas, dosen dan mahasiswa mengikuti berdemo

3 Februari 2021

Diperbarui sejam yang berantakan

Gerakan tangkisan warga sipil di Myanmar semakin meningkat dengan bergabungnya para pendidik dan mahasiswa dalam memprotes kudeta militer.

Demonstran di universitas dalam kota terbesar, Yangon, meneriakkan dukungan kepada pemimpin yang ditahan, Aung San Suu Kyi dan menggunakan pita merah, warna partainya, Perserikatan Nasional untuk Demokrasi, NLD.

Suu Kyi dan para pemimpin lain ditahan sejak militer melancarkan kudeta Senin (01/02) lalu.

Suu Kyi tak terlihat sejak kudeta, namun ia diduga berada dalam tahanan rumah, prawacana NLD seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Ratusan pendidik dan mahasiswa berkumpul di sungguh Universitas Dagon Jumat (05/02) dengan simbol tiga jari – petunjuk yang banyak dilakukan oleh para-para pengunjuk rasa untuk menunjukkan penentangan terhadap militer.

“Kami tidak akan melakukan generasi kami menderita di lembah diktator militer, ” kata Min Sithu, seorang mahasiswa kepada dewan berita AFP.

Para-para mahasiswa di Universitas Dagon meneriakkan, “Hidup Ibu Suu” dan membawa bendera merah, warna NLD.

Demonstrasi terjadi di sejumlah tempat di Myanmar.

Warga di sejumlah kota termasuk di Yangon melakukan protes pada malam keadaan daria rumah-rumah mereka dengan memukul panji dan wajan dan menyanyikan lagu-lagu revolusioner.

Pada siang hari, penentangan dilakukan antara lain dengan merapal klakson mobil.

Petugas kesehatan di sebanyak kota besar juga melakukan protes-protes kecil dan mogok kerja, sedangkan para aktivis menyerukan aparat biasa negara menolak bekerja untuk tadbir yang baru.

Namun kendali militer sangat kuat.

Seruan untuk membebaskan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi bergema di Myanmar sejak penangkapan pada Senin (01/02) pagi buta.

Bersamaan dengan penahanan Suu Kyi, lebih sejak 100 anggota parlemen ditahan sebab militer di akomodasi mereka pada ibu kota, Nay Pyi Taw. Kini, sebagian dari mereka dikabarkan telah dibebaskan.

Militer mengambil alih kekuasaan pada Senin dini keadaan dan memberlakukan kondisi darurat semasa setahun setelah menuduh partai Suu Kyi melakukan kecurangan atas kemajuan pemilu baru-baru ini.

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript ataupun coba di mesin pencari asing

Golongan yang dipimpin Suu Kyi, Gabungan Nasional untuk Demokrasi (NLD) menuntut pembebasan Suu Kyi. Partai tersebut juga meminta militer untuk menerima hasil pemilu pada November, yang dimenangi oleh NLD dengan lebih dari 80% suara.

Akan namun, militer telah menunjuk komisi penetapan dan kepala polisi baru. Real, komisi pemilihan sebelumnya tidak menjumpai bukti kecurangan pemilu.

Myanmar, yang serupa dikenal sebagai Burma, dikuasai sebab militer hingga 2011, ketika negeri sipil dilantik.

Apa yang berlaku saat ini di Myanmar?

Negara itu kini dalam kondisi tenang setelah kudeta, dengan pasukan tentara berpatroli di semua kota mulia dan jam malam diberlakukan. Pola komunikasi sempat terganggu ketika kudeta terjadi namun berangsur membaik di dalam Selasa (02/02) pagi.

Saat malam tiba pada hari Selasa, klakson mobil dan pukulan panci masa terdengar di jalan-jalan Yangon sebagai tanda protes warga atas kudeta yang terjadi.

Kelompok pemuda dan pelajar pula menyerukan kampanye pembangkangan sipil, dan halaman Facebook untuk kampanye tersebut disukai oleh lebih dari 100. 000 pengguna Facebook.

Dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah mengatakan mereka akan mogok kerja mulai Rabu (03/02) untuk memajukan pembebasan Suu Kyi.

Beberapa petugas medis menggunakan simbol sebagai protes diam-diam.

Setidaknya satu dokter telah berhenti bekerja sebagai bentuk protes, dengan mengatakan “kudeta semacam itu tidak dapat ditoleransi cocok sekali”.

Dr Naing Htoo Aung, seorang ahli anestesi berusia 47 tahun di Rumah Sakit Mongywa dalam Wilayah Sagaing, mengatakan kepada BBC Burma:

“Saya mengundurkan diri sebab saya tidak bisa bekerja di bawah seorang diktator militer yang tidak peduli dengan negara & rakyatnya. Ini adalah tanggapan utama yang bisa saya berikan pada mereka. ”

Sinse lain yang terlibat dalam kampanye menuntut pembebasan Suu Kyi, Myo Thet Oo, berkata kepada biro berita Reuters: “Kami tidak bisa menerima diktator dan pemerintah dengan tidak dipilih.

“Mereka bisa menahan ana kapan saya. Kami memutuskan untuk menghadapinya… Kami semua telah membatalkan untuk tidak datang ke vila sakit”

Tampuk kekuasaan kini dipegang sebab Panglima Tertinggi Min Aung Hlaing. Sebelas menteri dan deputi, termasuk di bidang keuangan, kesehatan, di dalam negeri dan luar negeri, telah diganti.

Dalam pertemuan pertama kabinetnya pada Selasa, Min Aung Hlaing mengulangi bahwa pengambilalihan itu “tak terelakkan” setelah militer membuat tudingan adanya kecurangan pemilu.

Dimana Aun San Suu Kyi saat ini?

Hingga kini belum ada pernyataan resmi terkait keberadaan Suu Kyi setelah ia ditangkap pada Senin dini hari.

Namun, menurut sumber dari NLD mengatakan kalau ia dan Presiden Win Myint menjalani tahanan rumah.

Suu Kyi – yang menghabiskan 15 tahun dalam penahanan sejak 1989-2010 – telah mendesak pendukungnya untuk “protes menentang kudeta” dalam sebuah tulisan yang ditulisnya sebelum ditahan.

Dalam surat itu, ia juga memperingatkan bahwa tindakan yang dilakukan militer sanggup membawa negara itu kembali dibawah kekuasaan diktator.

Ia dilarang menjadi presiden karena ia memiliki budak yang lahir dari warga negara asing.

Namun, sejak kemenangan NLD dalam pemilu yang menentukan di dalam 2015, ia secara luas dipandang sebagai pemimpin de facto Myanmar.

Sekilas tentang Myanmar

Myanmar adalah negara dengan populasi 51 juta jiwa di kawasan Asia Tenggara, yang berbatasan dengan Bangladesh, India, China, Thailand dan Laos.

Negara itu dipimpin oleh pemerintah militer sejak 1962-2011.

Hampir semua ekspresi perbedaan pendapat dilarang dan tuduhan pelanggaran hak asasi bani adam yang parah menuai kecaman serta sanksi internasional.

Aung San Suu Kyi menghabiskan waktu bertahun-tahun berkampanye buat reformasi demokrasi. Transisi demokrasi berantara dimulai pada 2010, meskipun efek militer masih cukup besar.

Pemerintahan yang dipimpin sebab Suu Kyi berkuasa setelah pemilu pada 2015.

Namun aksi represi militer terhadap Muslim Rohingya perut tahun kemudian, membuat ratusan ribu orang kabur ke Bangladesh serta memicu memudarnya dukungan komunitas internasional terhadap Suu Kyi.

Kendati begitu, ia tetap populer di Myanmar dan partainya menang telak dalam pemilu 2020. Namun militer saat ini telah turun tangan untuk mengambil kendali sekali lagi.

Bagaimana reaksi dunia?

Departemen Sungguh Negeri AS kemudian menyatakan apa yang terjadi di Myanmar sebagai sebuah kudeta dan mengatakan hendak mengkaji ulang kebijakan bantuan kepada negara itu.

Selain AS, PBB, Inggris dan Uni Eropa juga mengutuk pengambilalihan kekuasaan oleh militer di Myanmar.

Gajah muda untuk Asia di Kemenlu Inggris, Nigel Adams, mengatakan dia berharap komunikasi via telpon dengan Suu Kyi yang dijadwalkan di pekan ini bisa tetap berlaku untuk memastikan keselamatannya.

Belum sahih seberapa besar pengaruh peringatan dibanding negara-negara Barat itu. Para kepala kudeta kemungkinan telah memperkirakan adanya sanksi yang akan dijatuhkan serta telah memasukan hal itu pada rencana mereka.

China, yang sebelumnya menentang intervensi internasional di Myanmar, mendesak semua pihak di negara itu untuk “menyelesaikan perbedaan”.

Biro berita China Xinhua menggambarkan perubahan tersebut sebagai “perombakan kabinet”.

Sementara, negara lain di kawasan Asia Tenggara, tercatat Kamboja, Thailand dan Filipina, mengatakan apa yang terjadi di Myanmar sebagai “masalah internal”.