Kudeta Myanmar: ‘Bukti’ peluru tajam dimanfaatkan aparat keamanan saat hadapi demonstran, kata utusan PBB

12 Februari 2021, 10: 02 WIB

Diperbarui 18 menit yg lalu

Pasukan keamanan Myanmar menggunakan peluru tajam di dalam menghadapi demonstran antikudeta, tindakan yang melanggar peraturan internasional, kata utusan hak asasi manusia Perserikatan Bangsa (PBB).

Dalam pertemuan darurat pada Jenewa, Swiss, Thomas Andrews mengecam para pemimpin kudeta dan mengatakan “semakin banyak laporan dan bukti foto” terjadinya pelanggaran.

Ia menyerukan sanksi ekonomi dan larangan ekspor senjata ke negara itu.

Demonstrasi terus terjadi Jumat (12/02), dan para pengunjuk rasa tidak mengindahkan seruan panglima militer.

Jendral Min Aung Hlaing menyerukan “persatuan” untuk mencegah “disintegrasi” di tengah hari libur negar aitu dalam perayaan Union Day, hari berdirinya negara itu 74 tahun lalu.

Pengunjuk rasa menuntut dibebaskannya para pemimpin yang ditahan termasuk Aung San Suu Kyi.

Dalam pertemuan darurat itu, Andrews – penyelidik kasus HAM PBB buat Mynamar – mengatakan para penyelidik tidak diizinkan masuk negara tersebut, dan bukti menunjukkan peluru tajam digunakan dalam menghadapi demonstran.

Andrews mengatakan rakyat Myanmar menumpukan harapan kepada PBB, tidak hanya sekedar pernyataan di atas kertas.

Ia menyerukan kepada PBB : melalui dewan keamanan – untuk mempertimbangkan sanksi ekonomi, larangan ekspor senjata dan larangan perjalanan untuk para pemimpin militer Myanmar.

Seruan PBB ini muncul di tengah laporan bahwa polisi menembakkan peluru karet di Mawlamine.

Momen sebelum penembakan atas demonstran perempua n

Kajian Captain christopher Giles dan Jack Goodman, BBC News

BBC mengamati video di media sosial dan berbicara dengan ahli forensik untuk memeriksa bukti-bukti terkait penembakan seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Myanmar pekan ini.

“Polisi maju dengan truk. Pra pengunjuk rasa mundur. Kami mengawasi dari pinggir jalan. ”

Mya Tha Toe Nwe, seorang pengunjuk rasa di Myanmar, menceritakan momen sesaat sebelum adik perempuannya ditembak pada bagian belakang kepala pada Selasa (09/02) di ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw.

Mya Thwe Khaing dilarikan ke rumah sakit di dalam kondisi kritis.

Penembakan atas perempuan muda itu menjadi momen penting dalam perjuangan Myanmar untuk demokrasi, menyusul kudeta militer pekan lalu.

Rekaman video clip insiden tersebut, dan sebuah foto yang menunjukkan perempuan itu dalam keadaan berdarah-darah dan tidak sadarkan diri setelah penembakan, telah banyak dibagikan di media sosial.

Banyak warganet di Myanmar marah akan insiden yg tampaknya merupakan penembakan pertama terhadap warga sipil sejak aksi protes dimulai, dan PBB telah menyatakan khawatir atas tindakan pasukan keamanan.

Tentara mengatakan bahwa hanya proyektil karet, bukan peluru tajam, yang digunakan selama protes dan polisi sedang menyelidikinya.

Jadi apa yang kita ketahui tentang perempuan di video tersebut? Apa yang dia lakukan saat dia ditembak, dan apakah peluru memang ditembakkan ke arah pengunjuk rasa?

Dengan mengamati foto dan movie yang dibagikan di media sosial, serta berbicara kepada ahli forensik, kami memeriksa bukti-bukti seputar penembakan tersebut.

‘Saat itulah dia ditembak’

Sebuah video penembakan yang dibagikan secara luas di internet menunjukkan sekelompok jamaah berlindung di halte bus. Di dalam kelompok tersebut ada seorang perempuan yang mengenakan atasan berwarna merah dan memakai helm sepeda motor.

Polisi, yang membawa perisai anti huru-hara dan pentungan, terlihat di sarana dekat halte. Saat pasukan keamanan mulai menyemprotkan air dan bergerak maju, beberapa suara tembakan senjata terdengar di video.

Tak lama setelah itu, video menunjukkan perempuan dengan atasan merah, yang membelakangi polisi, tiba-tiba jatuh ke tanah.

“Seperti yang Kamu lihat di internet, kami bersembunyi di belakang. Ketika saya mendengar tembakan, saya pikir mereka menembak ke atas, ” kata kakak perempuannya kepada BBC Burma.

“Saat itulah dia ditembak. Awalnya saya kira adik saya jatuh karena merasa begitu marah. Ketika orang-orang memanggil bantuan dan melepas helmnya, saya melihat darah keluar dari kepalanya dan menyadari bahwa dia telah tertembak. Selanjutnya kerumunan membawanya pergi. ”

Di mana penembakan itu terjadi?

Berdasarkan satu video tersebut, yang berkualitas rendah dan diambil dari sudut yang terbatas, lokasi perempuan itu ditembak tidak begitu jelas. Tetapi dengan menggabungkan petunjuk visual dari papan reklame dan rambu jalan serta rekaman lain dari hari itu, kami dapat menunjukkan dengan tepat lokasi insiden tersebut.

Rekaman lain yang kami lihat menunjukkan polisi bergerak di Jalan Taungnyo, disambut oleh massa pengunjuk rasa di jalan yang kira-kira sejajar dengan halte bus.

Area dalam video clip tersebut ada di dekat Pasar Thapyaygone, yang menjual pakaian, makanan, dan peralatan rumah tangga.

Juga dimungkinkan untuk memperkirakan kapan penembakan terjadi – antara 12: 00-13: thirty waktu setempat – dari sudut bayangan struktur bangunan dalam rekaman.

Warganet di media sosial juga membagikan gambar model helm “Dunk” yg dibuat oleh perusahaan bernama Catalog. Pada gambar itu, mereka menunjukkan apa yang tampak seperti lubang peluru. Letaknya ada di bagian kiri belakang helm, tepat di atas logo, sesuai dengan movie penembakan.

Kami menunjukkan gambar tersebut kepada ahli forensik, Dr Kate Hewins. Ia mengatakan mungkin saja ada suatu obyek yang menembus cangkang helm, kemudian material helm sebagian menutup kembali ke dalam lubang setelah benda itu melewatinya.

Proyektil karet, katanya, bukan akan memberikan efek itu.

“Dari gambar yang diberikan, sangat tidak mungkin peluru karet yang tersedia sebagaiselaku, ala, menurut, komersial akan menembus helm ini seperti yang terlihat pada gambar. ”

Darah di bagian dalam helm pada gambar lain yang dibagikan di media sosial sejajar dengan lekukan di bagian luar, menunjukkan bahwa helm tersebut telah ditembus. Bukti yang ada menunjukkan yakni dalam peristiwa ini, penetrasi tersebut disebabkan oleh peluru, kata Dr Hewins.

“Saya tidak melihat bagaimana [penetrasi] itu bisa dikarenakan oleh hal lain, dan itu sangat tidak mungkin merupakan amunisi yang tidak mematikan. ”

“Cara perempuan itu jatuh menunjukkan amunisi senjata kecil sudah ditembakkan ke kepala, alih-alih dampak/guncangan yang disebabkan proyektil yang tidak mematikan. ”

Video tidak menunjukkan cuando peluru memantul dari permukaan lain sebelum menghantam perempuan itu, meskipun ini mungkin saja terjadi. Pantulan akan mengurangi kecepatan hantaman. “Ini tampaknya dampak langsung, ” kata Dr Hewins.

Siapa yang melepaskan tembakan?

Dari video penembakan, perempuan itu tampak membelakangi garis polisi, dan sudut lintasan peluru yang mengenai helmnya kira-kira sama dengan arah tembakan dari garis polisi.

Insiden itu memantik perburuan di media sosial, yang didorong oleh anak-anak muda pengguna Facebook di Myanmar. Banyak spekulasi dan kemarahan berpusat pada seorang petugas polisi yang tampak dalam gambar sedang memegang senapan. Foto tersebut diambil oleh fotografer Reuters saat unjuk rasa.

Foto-foto lain juga menunjukkan bahwa dia bukan satu-satunya petugas bersenjata di protes itu.

Namun, kami tidak dapat memastikan siapa petugas itu, atau apakah dia menembaki pengunjuk rasa.

Namun warganet di media sosial bertekad untuk mengidentifikasinya.

Tak lama setelah penembakan tersebut, muncul dua nama pria, keduanya dituduh warganet sebagai anggota polisi bersenjata dalam foto tersebut.

Foto-foto keluarga dari akun Fb pribadi diunggah dan dibagikan ribuan kali, poster “buronan” pun dibuat. Salah satu pria yang disebutkan di media sosial mengatakan dia telah menjadi korban “berita palsu” dan membantah kalau ia terlibat.

Laman Facebook pria yang satu lagi sudah tidak aktif. Satu foto dirinya di Instagram telah menarik ribuan komentar bernada geram.

Martir bagi pengunjuk rasa

Sejak internet mulai kembali pulih setelah sempat dibatasi ketika kudeta, para pengunjuk rasa sangat aktif berbagi pesan pro-demokrasi.

Foto dan video penembakan telah dibagikan bersama dengan tagar populer seperti #WhatsHappeningInMyanmar dan #Feb9Coup.

Gambar-gambar yang dibagikan terkait telah membuat kelompok HAM internasional khawatir.

Human Rights Watch mengatakan, saat menganalisis rekaman penembakan, mereka mengamati “tidak ada tindakan Mya Thwe Khaing dalam video itu yg menunjukkan kalau dia terlibat dalam tindakan kekerasan atau mengancam jadi melakukannya, atau memegang sesuatu di tangannya”.

Pasukan keamanan Myanmar punya riwayat panjang dalam menggunakan kekerasan tuk meredam protes.

Tapi Mya Tha Toe Nwe mengatakan dia bertekad untuk melanjutkan aksinya dan punya pesan bagi sesama pengunjuk rasa:

“Saya akan terus melawan mereka. Agar penderitaan adik ya tidak sia-sia, saya memanggil semua orang untuk melawan [militer] untuk membasmi [kediktatoran]. Buatlah peristiwa ini diketahui dunia. ”