Ledakan Beirut: PM Lebanon nyatakan pemerintah mundur di tengah ‘malapetaka tinggi, keruntuhan ekonomi dan sosial’

Pertama Menteri Lebanon Hassan Diab sudah mengumumkan bahwa segenap anggota kabinet mengundurkan diri ketika negara itu mengalami apa yang ia sebut sebagai malapetaka besar dan kerusakan ekonomi serta sosial.

Ia mencanangkan keputusan itu pada Senin suangi waktu setempat (10/08) di tengah kemarahan rakyat yang memuncak tempat ledakan di ibu kota Lebanon, Beirut, Selasa lalu.

“Saya hari itu menyatakan pemerintah mengundurkan diri. Semoga Tuhan menyelamatkan Lebanon, Dirgahayu Lebanon dan rakyatnya, ” kata Diab dalam pidato yang disiarkan langsung lewat televisi.

Pengumuman ini dikeluarkan sesudah digelar rapat darurat. Usai rapat dan pengumuman pembubaran kabinet, bekas Menteri Kehakiman, Marie-Claude Najem, mengutarakan pengunduran diri ini tidak bisa ditafsirkan sebagai tindakan melarikan diri dari tanggung jawab.

“Cobalah memahami status kami. Tak seorang pun ingin berkuasa dengan keadaan seperti tersebut, ketika kami mengalami semua urusan: keruntuhan keuangan, virus corona, inilah bencana nasional yang kami bersahaja.

“Jadi, tolong jangan diartikan tersebut sebagai langkah mengelak bertanggung pikiran. Kami ingin mengambil keputusan dengan ditujukan bagi rakyat Lebanon, ” ujar Najem.

Kira-kira menteri kabinet sebelumnya sudah mengundurkan diri, termasuk menteri Menteri Dunia, Damianos Kattar dan Menteri Keterangan, Manal Abdel Samat.

Namun langsung muncul agar segenap pemerintahan mengundurkan diri. Banyak rakyat Lebanon menyalahkan negeri karena mengizinkan bahan peledak di dalam jumlah besar disimpan di pelabuhan Beirut.

Korban bertambah

Mereka juga meluapkan nafsu atas hal yang mereka ibarat sebagai korupsi yang merajalela, serta warga pun turun ke jalan-jalan untuk mengadakan unjuk rasa.

Sementara itu, jumlah korban meninggal negeri akibat ledakan itu kini meningkat menjadi 220 orang, sebagaimana dianggap oleh Gubernur Beirut, Marwan Abboud.

Dia juga mengatakan puluhan orang sekitar ini masih hilang, banyak diantara mereka adalah pekerja asing serta pengemudi truk.

Perdana Menteri Hassan Diab dan Pemimpin Michael Aoun sebelumnya menjelaskan kalau ledakan berasal dari 2. 750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang pelabuhan selama enam tahun.

Pihak berwenang sudah diperingatkan acap bahwa penyimpanan amonium nitrat di pelabuhan itu berbahaya.

Berita tersebut masih akan dilengkapi.