Pemimpin Jokowi disuntik vaksin Covid-19, vaksinasi massal dimulai di Indonesia dalam tengah kendala cuaca hingga kapasitas lemari pendingin

  • Abraham Pokok
  • BBC News Nusantara

13 Januari 2021, 08: 17 WIB

Diperbarui 8 jam yang berserakan

Presiden Joko Widodo menjalani vaksinasi Covid-19 perdana buatan perusahaan pokok China, Sinovac, pada Rabu (13/01) di Istana Negara, Jakarta. Momen tersebut menandai dimulainya program vaksinasi massal Covid-19 di Indonesia.

Jokowi mengatakan pada petugas bahwa tempat tidak pernah terdeteksi positif Covid-19 dan menderita penyakit bawaan, seperti diabetes maupun penyakit jantung.

Nggak terasa sama sekali, ” ujarnya setelah menerima vaksin Coronavac.

Dalam jalan itu, Presiden Jokowi menegaskan vaksinasi Covid-19 penting dilakukan untuk mematikan rantai penularan virus corona.

“Meskipun telah dilaksanakan vaksinasi, saya ingin mengingatkan kembali tentang pentinya disiplin terhadap protokol kesehatan. Tersebut tetap terus kita lakukan secara memakai masker, mencuci tangan, melindungi jarak dan hindar kerumunan, ” kata Jokowi, tanpa menyinggung ulangan dan pelacakan kontak yang dikenal WHO sebagai tulang punggung sanggahan penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Jokowi, vaksinasi akan dilanjutkan “di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia”.

Namun pakar vaksin memprediksi pengamalan vaksinasi tahap pertama di bermacam-macam wilayah di Indonesia akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam cara distribusi dan penyimpanan.

Di sejumlah kawasan di Aceh dan Sulawesi Selatan, beberapa puskesmas harus bergantung pada genset dan panel tenaga matahari agar lemari pendingin vaksin terus-menerus beroperasi. Alasannya, listrik tak mengalir 24 jam di daerah itu.

Persoalan vaksinasi Covid-19 secara umum akan terjadi pada proses distribusi, menurut Jane Soepardi, ahli imunisasi sekaligus mantan pejabat tinggi Kementerian Kesehatan.

Apa kendala distribusi?

Jane berkata, peluang munculnya hambatan terjadi saat vaksin didistribusikan ke lingkup terbawah, yaitu dari otoritas kabupaten atau kota ke puskesmas. Armada dan peralatan yang tidak menjamin kestabilan suhu, kata dia, rentan merusak vaksin.

“Masalah bisa terjadi pada proses distribusi, saat vaksin keluar dari satu depo ke depo lain, ” ujarnya saat dihubungi, Selasa (12/01).

“Dari Bio Farma sampai ke depo provinsi pasti aman, karena standarnya gunakan pesawat atau truk khusus berpendingin.

“Lalu biasanya dinas kesehatan kabupaten mengambil ke provinsi. Standarnya kabupaten punya mobil berlemari es yang khusus mengangkut vaksin, tidak boleh untuk angkut yang lain.

“Rata-rata kabupaten punya ini. Mereka mengambil dengan kendaraan yang memadai. Di Papua harus pakai pesawat.

“Nah yang terakhir dari kabupaten ke puskesmas dan rumah sakit. Biasanya puskesmas ambil menggunakan motor. Di situlah kemungkinan terjadinya masalah. Itu praktik di lapangan, ” kata Jane.

Setelah vaksinasi terhadap Jokowi di Jakarta, pemberian vaksin secara resmi juga akan mulai digelar di berbagai daerah, meski tidak serentak. Pejabat publik berada di urutan pertama walau vaksinasi tahap satu ini menargetkan tenaga kesehatan.

Bagaimana faktor cuaca dan pasokan listrik?

Di Aceh, vaksinasi pertama bakal dilakukan 15 Januari mendatang. Namun hingga saat ini beberapa puskesmas dan rumah sakit mengaku belum mendapat kejelasan soal jatah dan proses distribusi vaksin yang hendak mereka terima.

“Sampai sekarang kami belum mendapat info dari dinas, vaksinator juga belum dilatih, ” sekapur Misriadi, tenaga kesehatan di puskesmas Pulo Aceh, sebuah pulau dalam Kabupaten Aceh Besar, yang cuma bisa diakses lewat perjalanan laut.

Merujuk program vaksinasi tahun-tahun sebelumnya, serupa campak dan rubella, Misriadi menyuarakan kendala distribusi ke pulaunya bukan armada maupun kotak pendingin, memperbedakan faktor cuaca.

“Biasanya kami yang menjemput vaksin ke kabupaten. Kami angkat dalam kotak pendingin. Kalau sesuai SOP, distribusi pasti aman. Kalau kotak itu rusak, misalnya memukul kapal karena badai, berarti itu faktor alam, ” kata Misriadi.

Daya kerusakan vaksin juga bisa menyembul, menurut Misriadi, jika aliran listrik ke pulaunya putus. Selama ini mereka menyiagakan genset agar lemari pendingin untuk vaksin tetap bisa beroperasi.

“Kami punya lemari pendingin. Ukurannya 40×40 sentimeter. Bulan September kemarin ada proses perawatan. Kendalanya, listrik di sini 24 jam, tapi kalau mati bisa sampai perut hari. Paling kami hanya mampu menggunakan genset, ” ucapnya.

Hal serupa diutarakan, Tomy Drajat, pengurus puskesmas di Barang Lompo, sebuah pulau di gugus kepulauan Kota Makassar.

Tomy berkata, proses pengambilan vaksin ke depo milik dinas kesehatan berpegang cuaca. Dan meski puskesmasnya memiliki satu kulkas besar untuk merapikan vaksin, aliran listrik di pulaunya hanya mengalir dari pukul enam sore sampai 6 pagi.

“Kondisi kulkas kami masih bagus. Kami membentuk pakai tenaga surya, jadi masa listrik mati di pagi hari, suhu kulkas tetap terkendali. Awak juga ada genset, ” logat Tomy.

“Kemarin kami dapat lagi sandaran satu cooler box khusus vaksin Covid-19, untuk transfer dari gudang farmasi ke puskesmas kami. Jadi kami saat ini punya enam kotak pendingin, empat ada di puskesmas pembantu, dua di puskesmas.

“Jadi saya insya allah siap, hanya selalu mungkin yang kami tunggu adalah cuaca. Untuk Pulau Barang Lompo, Barang Caddi, dan Bonetambung bisa kami salurkan secepatnya.

“Tapi kondisinya berbeda untuk pulau-pulau lain seperti Langkai karena jaraknya lebih jauh dan bisa terkendala cuaca, ” kata Tomy.

Ada persoalan lain?

Namun persoalan yang diprediksi muncul bukan cuma soal distribusi, tapi juga kapasitas alat penyimpan vaksin.

Walau hampir seluruh puskesmas dan rumah sakit memiliki lemari pendingin, Jane Soepardi menyebut beberapa sarana penyimpanan vaksin saat tersebut penuh berbagai jenis vaksin penyakit lain.

“Program imunisasi selama pandemi ini agak macet. Orang tua rata-rata takut membawa anaknya ke puskesmas karena cemas tertular Covid-19, ” kata Jane.

“Karena layanan imunisasi redup, vaksin tidak terserap sehingga menyusun. Dampaknya tidak ada ruang dengan cukup untuk vaksin Covid-19.

“Vaksin Covid-19 yang didistribusikan ini dikemas dosis tunggal, artinya satu botol untuk satu orang, jadi volumenya jadi besar.

“Nantinya, Coronavac bakal diproduksi Bio Farma. Mereka bakal masukkan ke botol-botol dengan rancangan multi dosis. Kalau tidak, puskesmas harus membeli lemari es baru.

“Maka yang mesti diatur adalah zaman pengirimannya. Cold room di provinsi gede, vaksin bisa ditahan di danau, sedikit-sedikit tapi sering. Begitu selalu di kabupaten. Dampaknya mahal di ongkos pengiriman, ” ujar Jane.

Lemari pendingin di RSUD Aceh Besar, misalnya, saat ini digunakan untuk beragam jenis vaksin dan darah. Karena daya tampung minim, penasihat rumah sakit itu, Bunayya Anak, menyebut lembaganya hanya bisa membereskan vaksin Covid-19 untuk penggunaan utama hari.

“Kalau misalnya kami harus membenahi 200 vaksin, kami siap. Akan tetapi kalau harus, katakanlah menyimpan 2000 atau 3000 dosis, harus bertahap distribusinya. Kami belum mampu, ” ujarnya.

Prosedur pra-pelaksanaan vaksinasi itu serupa dilakukan di Papua, kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Aib Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aaron Rumainum.

Di provinsi itu, periode pertama vaksinasi Covid-19 hanya hendak digelar di Kota dan Kabupaten Jayapura serta Kabupaten Timika, untuk total 7. 340 orang.

“Kami jamin untuk Jayapura dan Timika tenteram, karena petugas sudah dilatih. Mereka harus catat suhu pagi & sore, cara penyimpanan yang benar, mana vaksin berbahan dasar virus yang dimatikan, mana yang bahan dasarnya virus yang dilemahkan, ” kata Aaron.

“Kalau yang dilemahkan butuh dingin, harus diletakkan di dekat kompresor, tapi vaksin seperti Sinovac ini harus jauh dari kompresor.

“Nanti bagaimana cara membawanya, menggunakan vaccine carrier , kotak yang isinya air es, tidak boleh yang isinya es batu, ” ujarnya.

Mengapa rantai dingin begitu krusial?

Pada tahap pertama Januari tersebut, PT Bio Farma (Persero) meneruskan tiga juta dosis vaksin Covid-19 ke seluruh provinsi.

Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan rantai dingin buat tiga juta dosis itu dipastikan terjamin selama proses distribusi had penyimpanan.

Ahmad Yani, Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Makassar, membicarakan pihaknya akan turut mengawasi cara distribusi vaksin hingga ke puskesmas.

“Petugas, termasuk saya, akan memastikan iklim sarana dan prasarana penyimpanannya, apakah seusai dengan yang ditentukan. Tersebut paling utama, ” kata Ahmad.

“Sejak tiba, mulai dari bandara datang tiba di tempat penyimpanan, saya selalu memantau kondisinya. Tentu tak 24 jam di situ, tapi kan ada petugasnya.

“Jangan sampai terjadi ada perubahan suhu yang drastis yang bisa mempengaruhi efektivitas sebab vaksin itu sendiri, ” ujarnya.

Menunjuk penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun kegagalan rantai tebal telinga menyebabkan kerusakan hingga 50% vaksin di seluruh dunia.

Sementara pada studi manajemen vaksin yang efektif (EVM) antara Kementerian Kesehatan dan UNICEF tahun 2011 hingga 2012, banyak peralatan dalam rantai tebal telinga di Indonesia tidak dirawat jadi memicu kerusakan vaksin.

Namun perbaikan telah digenjot, kata Jane Soepardi, pra program vaksinasi campak dan rubella massal tahun 2017 dan 2018.

Hingga tahun 2018, merujuk bukti Kemenkes, 92, 2% atau kira-kira 9. 800 puskesmas telah memiliki rantai dingin yang sesuai penopang.

Tatkala lewat instrumen VIRAT ( Vaccine Introduction Readiness Assesment Tool ) yang disusun WHO, setiap dinas kesehatan diminta memantau kesiapan rantai dingin vaksin Covid-19.

Wartawan di Aceh, Hidayatullah dan jurnalis di Makassar, Darul Amri, berkontribusi untuk artikel ini.