‘Perempuan terlalu banyak bicara’, pernyataan Yoshiro Mori, presiden Olimpiade Tokyo yang ‘segera mundur’ setelah pernyataan tersebut

50 menit yang lalu

Nama Yoshiro Mori, presiden Olimpiade Tokyo, dikecam luas setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap “merendahkan perempuan”. Perdebatan ini mendorongnya untuk meminta maaf dan “mengundurkan diri” dari situasi sebagai presiden Olimpiade Tokyo.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Mori beberapa waktu lalu saat menghadiri pertemuan virtual para pejabat senior komisi Olimpiade Tokyo.

Mori — yang berumur 83 tahun — mengatakan kalau “perempuan terlalu banyak bicara”.

“Perempuan punya rasa persaingan yang kuat. Jika satu orang mengangkat tangan buat bicara, yang lain merasa harus pula ikut bicara. [Akhirnya] semuanya merasa perlu untuk bicara, ” kata Mori, semacam dikutip media di Jepang.

Mori juga dikutip mengatakan, “Jika kita ingin menambah direktur hawa, kita harus memastikan ada pembatasan lamanya mereka berbicara, mereka pelik berhenti, suatu hal yang menjengkelkan. ”

Pernyataannya tersebut memicu kecaman dengan meluas, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada hari Rabu (10/02), gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan dirinya akan memboikot pertemuan pekan depan yang dihadiri oleh Mori, menteri olahraga Jepang, & presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach.

“Melihat situasi yang berkembang, kami kira hadir di pertemuan itu akan mengirim pesan yang salah, ” kata Koike, gubernur hawa pertama Tokyo.

Mori diperkirakan akan mengundurkan diri dari posisi presiden Olimpiade Tokyo, setelah sebelumnya sempat menetapkan dirinya tetap berniat menduduki jabatan tersebut.

Media di Jepang mengatakan “pengunduran diri Mori disampaikan hari Jumat (12/02) di pertemuan dewan eksekutif panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo”.

Kepada Nippon TV, Mori mengatakan bahwa dirinya akan menjelaskan kontroversi ini pada pertemuan tersebut.

“Saya harus meminta maaf, ” kata Mori kepada Nippon TV, hari Kamis (11/02).

“Saya tak bisa membiarkan kasus ini berlarut-larut, ” imbuhnya.

‘Pukulan besar’

Kantor berita Jepang, Kyodo, secara mengutip sejumlah sumber, mengatakan bahwa Mori akan digantikan oleh Saburo Kawabuchi, laki-laki berusia 84 tarikh yang pernah menjadi ketua bon sepak bola Jepang.

Kawabuchi adalah anggota tim nasional sepak bola Jepang di Olimpiade Tokyo tarikh 1964.

Ia juga berperan istimewa dalam meluncurkan liga sepak bola profesional Jepang, J-League, pada 1993.

Mori bukan nama asing di stan politik Jepang.

Ia antara lain sudah menjabat sebagai menteri pendidikan serta menteri perdagangan internasional sebelum menjadi perdana menteri pada April 2000 hingga April 2001.

Jabatan presiden Olimpiade Tokyo ia pegang sejak 2014.

Pembatalan Mori akan menjadi pukulan gembung bagi persiapan pelaksanaan Olimpide Tokyo.

Olimpiade ini sedianya digelar pada pertengahan tahun lalu namun ditunda sebab pandemi Covid-19.

Rencananya, pesta olahraga memutar akbar di dunia tersebut berangkat digelar pada 23 Juli tahun ini.

Namun publik di dalam daerah, sebagian besar mendesak agar ditunda atau bahkan dibatalkan sama sekadar karena pandemi belum sepenuhnya bisa dikendalikan.