Pilkada 2020: Gibran dan Bobby diproyeksi menang meski minim pengalaman politik, ‘perlu buktikan dengan kerja keras’

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Joko Widodo, dan Bobby Nasution, menantu pemimpin, diproyeksikan memenangkan Pilkada di Solo dan Medan, meski keduanya minim pengalaman politik.

Sejumlah buatan perrhitungan cepat lembaga survei membuktikan Gibran diperkirakan mendulang suara bertambah dari 80% di Solo, Jawa Tengah.

Sementara di Medan, Sumatera Utara, Bobby diperkirakan unggul secara lebih dari 50% suara.

Data kontribusi pemilih belum dipublikasikan hingga Rabu (09/12) malam.

Baik Gibran serta Bobby, yang diusung Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P), sama-sama menggeser kader PDI-P yang awalnya diunggulkan untuk posisi calon pemangku kota.

Peneliti Lembaga Ilmu Wawasan Indonesia (LIPI) mengatakan secara ijmal, Pilkada 2020 menunjukkan dinasti kebijakan yang menguat, yang juga tercermin dari pencalonan Gibran dan Bobby.

Namun, seorang peneliti lembaga inspeksi menyebut keberhasilan Gibran dan Bobby belum bisa dianggap sebagai keturunan politik, karena tak meliputi pertalian di legislatif atau yudikatif.

Proyeksi menang

Petunjuk hitung cepat sejumlah lembaga inspeksi menunjukkan putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming, yang berpasangan dengan Setia Prakosa, diproyeksikan mengalahkan pasangan bahan independen Bagyo Wahyono-FX Supardjo di dalam Pilkada Solo.

Ketika ditanya mengenai tanggapan dan rencananya dalam periode dekat dalam konferensi pers Rabu (09/12), Gibran mengatakan ia masih akan menunggu hasil resmi.

“Yang jelas kita tunggu dulu perkiraan suara yang resmi dari KPU. Dalam waktu dekat ini mungkin saya dan Pak Teguh mau melakukan komunikasi yang intensif, sinergi, sinkronisasi dengan Pak Wali Kota, Pak [FX] Rudy, Pak [Achmad] Purnomo (wali kota Solo) agar pertukaran ini berjalan dengan baik.

“Yang jelas kita tunggu dulu pemberitahuan resmi dari KPU, ” kata pendahuluan Gibran seperti dilaporkan wartawan Pagi buta Sodiq di Solo yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Gibran menambahkan tak akan melakukan selebrasi apa pun terkait kemenangannya yang nampak di depan mata itu.

Di Medan, pasangan Bobby Nasution dan Aulia Rachman diproyeksikan ulung dari petahana Pelaksana Tugas Praja Medan Akhyar Nasution dan Salman Alfarisi.

Kepada wartawan (09/12), Bobby selalu mengatakan ia akan menunggu hasil perhitungan resmi, seraya membeberkan rencananya dalam waktu dekat.

“Permasalahan kota Daerah di birokrasi ini akan betul-betul kita selesaikan.

“Dan di asosiasi, yang dirasakan langsung, ini bagaimana ke depannya bisa langsung kita lakukan bersih-bersih karena korban sejak banjir kota Medan masih ada, ” ujarnya seperti dilaporkan Dedi Hermawan dari Medan untuk BBC News Indonesia.

Baik Gibran dan Bobby sama-sama berlatar belakang pengusaha yang tidak memiliki pengalaman di bidang politik.

‘Tak mungkin melawan orang kuat dengan akses ke PDI-P’

Nama Gibran baru muncul dalam kancah politik tahun lalu kala ia berniat mencalonkan diri sebagai wali kota Solo.

Ia gres bergabung dengan PDI-P pada kamar September 2019 lalu.

Namun, Gibran berhasil menggeser calon yang awalnya diusung Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Solo, yakni wakil wali kota Solo saat ini Achmad Purnomo.

Pencalonan Gibran sendiri direstui oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P, yang menukar arah pencalonan wali kota Tunggal, ujar pengamat politik dan lembaga dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Agus Riwanto.

Achmad Purnomo kemudian mundur dari pencalonan.

“Ya menurut saya secara manusiawi biasa dia (Achmad Purnomo) mundur sebab tidak memungkinkan secara politis. Ketika ada orang kuat yang mempunyai akses dengan DPP PDI-P, tentu dia [Achmad] ngerasa lebih ada yang lebih berpengaruh dari dia.

“Karena mekanisme pencalonan dalam pemilu itu kan melalui rekomendasi DPP, siapa yang punya akses ke sana ya mereka yang paling kuat. Ternyata itu mampu dilakukan oleh Gibran, ” ujarnya.

Dia mengatakan kemenangan Gibran sendiri tidak mengejutkan bagi warga Solo.

“Warga menganggap biasa karena siapa pun yang dicalonkan PDI-P sudah pasti lulus, tidak harus Gibran, siapa selalu. Keunikannya ini karena dia budak presiden, ” kata Agus.

Sementara, peneliti politik LIPI Aisah Ananda mengatakan kemenangan Gibran dapat diprediksi dengan mudah karena lawannya dengan mencalonkan diri dari jalur independen, alias tak didukung parpol mana pun.

Sementara Gibran didukung hampir seluruh partai besar, seperti PDI-P, Gerindra, Golkar, hingga Nasdem.

Gibran tunggal sudah membantah tudingan dinasti politik sejak jauh hari.

“Pokoknya bapak [Jokowi] nggak sudah memaksa apa pun, nggak pernah mengarahkan harus ke sini, kudu ke sana, nggak. Semuanya khali. Semuanya, yang penting harus sendiri, ” kata Gibran kepada kuli Fajar Sodiq di Solo tahun lalu.

Bobby juga m enyalip’ calon yang pembukaan diunggulkan

Hal yang sama berlaku di Medan, sebagaimana dijelaskan pengkritik politik LIPI, Aisah Putri Budiatri.

“Dalam kasus Bobby misalnya, wakil wali kota Medan, yang kemudian jadi PLT Walikota Medan, itu kan berasal dari PDIP yang mengakar sekali, sudah sejak lama menjelma tokoh lokal di sana.

“Tapi kemudian disalip Bobby yang pengembara baru di dunia politik. Itu kita bisa duga karena posisi dia sebagai anak [menantu] presiden, ” kata Aisah.

Akhyar Nasution kemudian dipecat sebab PDI-P dan maju dalam pemilihan bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat.

Bobby sendiri kira-kira kali membantah soal dinasti politik.

“Ya bukan dinasti lah… Kita ingin berbuat, ingin berbuat pada suatu daerah kita, tempat muncul kita di situ ya, beta rasa bukan dinasti lah, ” katanya kepada wartawan Februari morat-marit.

Menurut Aisah, praktik yang sebanding tak hanya terjadi di Medan dan Solo, tapi juga dalam daerah-daerah lain.

Ia menambahkan sekitar seperlima dari seluruh peserta pilkada sekarang adalah bagian dari politik dinasti di tingkat lokal maupun nasional.

Menurut Aisah Putri, barang apa yang terjadi adalah bentuk kegagalan partai politik untuk melakukan kaderisasi anggotanya sendiri.

“Parpol seharusnya menelungkupkan ruang pada siapa pun, terutama kader partainya sendiri yang telah lama untuk kemudian direkrut, dikaderisasi, dan ketika dinilai punya kapasitas berhak maju menjadi calon di pilkada.

“Ruang ini menjadi semakin sempit ketika dinasti politik memiliki. Ini kelihatan sekali sekarang, ” ujarnya.

Dalam jangka panjang, ia menilai praktik dinasti politik kritis bagi proses demokrasi dan bisa berpengaruh dalam hal check and balances di lingkungan pemerintahan.

Sumber: Komisi Pemilihan Ijmal, Komisi Pemberantasan Korupsi

Harap aktifkan JavaScript untuk melihat konten itu.

‘Perlu kerja keras untuk buktikan kinerja’

Namun, Usep Ahyar, Direktur lembaga survei Populi Center, tak melihat hasil Gibran dan Bobby ini jadi bentuk dinasti politik.

“Saya kira agak berat ketika dikatakan itu membangun dinasti politik. Dinasti politik yang sudah ada, yang menggurita, itu menguasai semua segmen pemerintahan termasuk eksekutif, legislatif, yudikatif.

“Ini kan nggak. Di legislatif, tempat [Jokowi] tidak memiliki. Dampak pemilihan Gibran dan Bobby saya kira tak akan terlalu besar, ” ujarnya.

Menurut Usep, di Medan, salah satu kota yang menjadi fokus survei Populi Center, Bobby terpilih karena dia berasal dari keluarga cukup terpandang di Medan.

Modal sosial itu lalu diperkuat dengan statusnya sebagai menantu presiden.

Di tambah lagi, patuh Usep, sejumlah warga Medan tak puas dengan kinerja lawan Bobby, petahana wali kota, yang salah satunya disebabkan karena pembangunan infrastruktur yang tak memadai.

Sementara, di Solo, Usep mengatakan kemenangan Gibran juga terjadi karena lawannya yang juga minim pengalaman di bagian politik.

Terlepas dari apa masalah wangsa politik, pengamat politik LIPI Aisah Putri mengatakan Gibran dan Bobby perlu untuk bekerja keras untuk membuktikan bahwa mereka tak sekadar terpilih karena relasi dengan Jokowi.

“Mereka perlu melakukan pembangunan tanah air dengan baik, apalagi karena masa ini mereka tak hanya disorot secara lokal, tapi juga nasional, karena hubungan mereka dengan Jokowi, ” kata Aisah.

Sama-sama bermula dibanding Solo, apakah perjalanan politik Gibran akan seperti Jokowi?

Meski sama-sama mengawali karier politik dari Surakarta, pengamat politik dan hukum dibanding Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Agus Riwanto menilai sosok Jokowi dan Gibran berbeda.

“Jokowi kan menuju dari bawah, dari rakyat. Tempat bukan siapa-siapa, bukan bagian sejak elite atau kelompok politik terbatas. Dia berusaha sampai ke level terbatas dan menjadi pengusaha sukses dalam Solo. Itu otentiknya dia, ” kata Agus.

Hal itu, kata Agus, berbeda dengan Gibran.

“Kalau tempat [Gibran] kan nggak . Dia membentuk tiba-tiba. Dia bukan siapa-siapa, akan tetapi harus jadi elite politik. Dia jadi elite politik bukan sebab natural, tapi karena ada mekanisme, struktur sosial, di mana ayahnya seorang presiden, dan tiba-tiba oleh publik dia di- elite kan.

Start -nya berbeda menurut saya, ” katanya.

Ia mengatakan prospek Gibran menjadi pemimpin di dalam lingkup lebih besar akan tergantung dari bagaimana publik melihatnya.

Mengenai buatan pemilihannya, Agus Rianto mengatakan masyarakat Solo menanti janji yang diucapkan Gibran dalam kampanye, yakni untuk “melakukan lompatan Kota Solo”.