Rohingya: 94 pengungsi yang terombang-ambing dalam laut dibawa ke daratan Aceh ‘atas dasar kemanusiaan’

Sebanyak 94 pengungsi etnis Rohingya yang tercampak di perairan Aceh Utara telah dibawa ke pantai di Dukuh Lancok, sekitar 15 kilometer dibanding Kota Lhokseumawe, pada Kamis (25/06) sore.

Tindakan tersebut dilakukan para nelayan setelah mendapat desakan dari para penduduk sekitar.

“Mungkin karena latar belakang mereka yang terdampar beragama Islam, mungkin secara mental merasa persaudaraan, juga ada mengecap kemanusiaan. Sehingga mereka minta para pengungsi diturunkan ke desa, ” tutur Panglima Laot Aceh Mengetengahkan, Hamdani Yacob, kepada Saiful Juned, wartawan di lokasi yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Hamdani mengaku masih menduduki arahan dari pemerintah Kabupaten Aceh Utara serta kepolisian setempat.

“Untuk sementara, kita masih menunggu instruksi. Sambil jalan, kita terus memantau. Mungkin ada dengan sakit, diberi pengobatan. Dari bidang makan, juga diatur dari Muspida untuk membantu mereka, ” sebutan Hamdani.

Sebanyak 94 pengungsi Rohingya tersebut kini ditampung di salah satu gubuk wisata di Lancok.

“Mereka masih menjalani pemeriksaan dibanding tim Kabupaten Aceh Utara. Tetapi, masyarakat meminta mereka ditempatkan dalam menasah (musala). Di antara para pengungsi banyak terdapat perempuan dan anak-anak, ” sebut wartawan Saiful Juned, melaporkan.

Sebelumnya, pesawat motor yang membawa 94 karakter etnis Rohingya itu terlihat dalam perairan pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, sekitar pukul 12. 00 WIB, Rabu (24/06), sirih kepolisian setempat.

Kehadiran kapal yang membawa orang-orang Rohingya itu diketahui oleh tiga nelayan asal Kecamatan Senuddon, Kabupaten Aceh Utara, yang kapal motornya bertepatan sedang melintas di sekitar lokasi.

Keterangan yang dihimpun kepolisian setempat mengungkapkan bahwa pesawat yang ditumpangi warga Rohingya itu “nyaris tenggelam”.

“Selanjutnya anak buah kapal, Faisal & dua rekannya membantu mengevakuasi masyarakat negara asing, ” kata pejabat kepolisian setempat, dalam keterangan tertulis yang diterima BBC Indonesia, Rabu (24/06).

Secara terbelah, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, menegaskan bahwa perlu dikerjakan langkah-langkah preventif guna mencegah awak Rohingya melakukan perjalanan laut yang berbahaya.

Menurut kepolisian, 94 orang Rohingya itu dibawa oleh para nelayan menuju daerah Kuala Tanah Jamno Aye, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara.

Kuli di Aceh, Syaiful Juned, dengan melaporkan untuk BBC News Nusantara, mewawancarai panglima laut Seunuddon, Aceh Utara, M Hasan, yang berperan dalam mengevakuasi 94 orang etnis Rohingya.

“(Yang menemukan) nelayan,   lalu lapor di dalam saya, ” kata M Hasan.  

Menurutnya, pesawat motor yang ditumpangi orang-orang Rohingya itu nyaris tenggelam di dekat perairan Kabupaten Aceh Utara. Kemudian mereka dibantu oleh kapal nelayan KM 2017 nomor 811, ungkapnya.  

Di dalam perjalanan, kapal nelayan yang mendatangkan warga Rohingya itu mengalami keburukan, sebelum kemudian dibantu oleh tim kepolisian dan TNI setempat, kata kepolisian.

Aparat kepolisian dan TNI setempat – dipimpin Kapolsek Seunuddon Iptu M Jamil- kemudian mendatangi kapal nelayan tersebut.

Hasil pengecekan menyebutkan bahwa 94 orang tersebut awut-awutan terdiri 15 pria dewasa, 49 perempuan dewasa dan 30 anak-anak – adalah “warga Rohingya”.

Temuan sementara tim polisi serta TNI di lokasi kejadian bahwa kapal motor yang ditumpangi awak Rohingya “masih berada di lokasi”, yaitu sekitar empat mil sejak Pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Mengetengahkan.

Tentang modus yang akan diambil otoritas setempat terhadap puluhan warga Rohingya itu, “Sampai saat ini pihak TNI-Polri masih melakukan koordinasi dengan bagian terkait, ” demikian keterangan tercatat Polsek Seunuddon.

Datang Rabu sore, belum diketahui tentang motif 94 orang Rohingya itu meninggalkan tempat tinggalnya.

Tetapi gelombang pengungsi Rohingya – yang menempuh jalur laut di lepas pantai Indonesia – sesungguhnya sudah berkurang sejak Thailand dan Malaysia meningkatkan pemberantasan jaringan penyelundup manusia tahun 2015 lalu.

Pada awal Juni 2018, pemerintah Malaysia menahan 270 pengungsi Rohingya setelah kapal mereka terkatung-katung selama dua bulan karena lockdown dalam Malaysia.

Mereka mengaku kabur dari bagian selatan Bangladesh sejak awal April 2018, namun tidak bisa berlabuh.

Sejak kekerasan marak di negara bagian Rakhine, Agustus 2017 semrawut, diperkirakan 700. 000 Rohingya mengungsi dan sebagian besar melintasi pinggiran darat ke Bangladesh.

Pemerintah Myanmar dikecam dunia universal karena dituduh menyerang warga biasa Rohingya, namun mereka menegaskan berdiam ditujukan pada militan Rohingya dengan menyerang pos-pos polisi dan tentara Myanmar.

Orang Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar karena dianggap merupakan perantau gelap walau sudah tinggal lama di Myanmar.

Langkah melindungi

Terkait fenomena dengan disebut manusia perahu ( boat people ) tersebut, Menlu Retno menegaskan bahwa menetapkan dilakukan langkah-langkah preventif guna mencegah warga Rohingya melakukan perjalanan laut yang berbahaya.

“Perlu diambil langkah-langkah preventif agar mereka tidak menjadi korban perdagangan bani adam, ” tuturnya pada Rabu (24/06), sebagaimana dikutip kantor berita Antara, usai menghadiri pertemuan informal para menlu ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting/AMM) dengan virtual dari Jakarta.

Menlu Retno Marsudi menyebut upaya repatriasi ribuan warga Rohingya dari kamp-kamp pengungsian di Bangladesh ke Rakhine State, Myanmar, harus tetap diprioritaskan oleh ASEAN, walau rencana repatriasi hingga kini belum dapat terlaksana mengingat situasi keamanan serta pandemi Covid-19.

“Oleh karena itu, upaya untuk menyiapkan repatriasi harus terus dilakukan dengan menghormati prinsip sukarela, aman, serta bermartabat, ” kata Retno.

Akhir tahun lalu, para pemimpin ASEAN telah sepakat buat membentuk satuan tugas ad hoc guna membantu repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar.

Satgas tersebut akan main di bawah Sekretariat ASEAN buat mengawasi pelaksanaan rekomendasi penilaian keinginan awal ( preliminary needs assessment /PNA) berdasarkan masukan tim Pusat Koordinasi ASEAN buat Bantuan Kemanusiaan (AHA Centre) berhubungan Tim Tanggap Darurat dan Penghargaan ASEAN (ERAT).

Perjanjian antara Myanmar dan Bangladesh buat merepatriasi pengungsi Rohingya berlangsung ulet, sementara warga Rohingya menolak kembali ke Rakhine karena khawatir hendak persekusi dan status kewarganegaraan mereka yang tidak diakui menurut peraturan Myanmar.

Alih-alih direpatriasi, banyak pengungsi Rohingya justru menjadi korban penggelapan dan perdagangan manusia saat berupaya mencari penghidupan dengan lebih baik ke negara-negara lain, melalui jalur laut.