Teka-teki siapa pembuat relief peninggalan Bung Karno di Gedung Sarinah, ‘Mereka mungkin saja menghilangkan identitasnya’

  • Heyder Affan
  • Kuli BBC News Indonesia

sejam yang lalu

Relief peninggalan Kepala Sukarno di Gedung Sarinah, Jakarta, yang sempat telantar dan masa ini sedang dikonservasi, masih menyisakan teka-teki: mengapa sulit mengungkap siapa pembuatnya. Benarkah mereka sengaja menghilangkan identitasnya?

Asikin Hasan, kurator halus yang dipercaya manajemen Sarinah buat mengkonservasi relief itu, harus menguras. Dia dihadapkan pertanyaan penting: siapa pembuat relief di lantai pokok Gedung Sarinah, Jakarta.

Pada relief itu sejauh ini tidak terlihat prasasti yang biasanya menjelaskan siapa pembuatnya. Lalu dia pun mengontak beberapa keluarga perupa era 1960an yang diduga terkait dengan susunan seni itu, tapi hasilnya hampa.

“Kita sudah komunikasi dengan mereka, serta mereka (keluarganya) tidak berani meyakinkan, ” ungkap Asikin Hasan kepada BBC News Indonesia, Rabu (13/01). Sarinah dan Arsip Nasional selalu tidak memiliki arsip mengenai relief di lantai dasar Sarinah itu.

Alhasil, Asikin lalu bertumpu pada analisa karya-karya para-para perupa di era 1960an yang mirip dengan karya seni relief tersebut. Lalu, “tinggal kita membuktikannya secara tertulis, ada enggak bukti bahwa yang mengerjakannya adalah itu, ” paparnya.

Ada dua nama artis yang dulu dikenal dekat dengan Presiden Sukarno, yang disebutnya sangat mungkin sebagai pmbuat relief sepanjang 12 meter dengan tinggi tiga meter itu. – Asikin menolak menyebut namanya, karena “masih spekulatif”.

Namun keluarga dua seniman yang bersepakat dalam Sanggar Pelukis Rakyat (Yogyakarta) itu tak memiliki bukti, katanya.

Keluaran seni rupa patung ITB tersebut harus mengontak keluarganya lantaran tidak menemukan semacam prasasti yang lazimnya menyebut siapa pembuatnya. Biasanya, prasasti itu tertera di bagian tanda atau dasar relief yang menjorok ke depan.

Namun pada relief bergambar 12 sosok petani & nelayan itu yang terbuat dibanding beton bertulang itu, Asikin dan timnya tidak menemukannya. “Ini belum ketemu, ” akunya.

Sekarang tim konservator berusaha mengorek “pelan-pelan” beberapa ujung di tapak relief yang “sedikit tertimbun” adonan semen. Siapa terang tertutup semen, katanya. “Ini upaya terakhir, ” ujar Asikin.

Asikin dan timnya masih berusaha menemukan jawabannya, namun penulis buku ‘Bung Karno sang Arsitek’ (2005), Yuke Ardhiati, yang juga terlibat pengkajian relief di gedung Sarinah, mencurigai pembuatnya sengaja menyembunyikan identitasnya.

“Saya pikir, kalau sejauh ini tak ada prasastinya, bukan tidak kira-kira (sengaja) tidak ditulis, ” sirih Yuke kepada BBC News Nusantara, Rabu (13/01). “Artinya ada kesengajaan. ”

Yuke, yang sedang merampungkan sendi ‘Dua relief di Gedung Sarinah’ ini, melontarkan dugaan itu setelah mewawancarai beberapa anggota keluarga seniman, di antaranya Rustamadji, yang diduga mungkin terlibat pembuatan relief dalam Sarinah.

Selain keluarga Rustamadji, Yuke juga menghubungi keluarga lainnya yang prospek berada di balik relief itu, yaitu perupa Batara Lubis, Djoni Trisno, serta Trubus. Ketiganya merupakan anggota Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta. Yang disebut terakhir meninggal di peristiwa kekerasan pasca Oktober 1965

“Mengerucut pada tiga nama itu, tapi saya tidak akan men- declare eksplisit kalau itu adalah karya mereka. Ini bisa berubah kalau ditemukan dengan lebih sahih, ” tegasnya.

Serta saat menghubungi keluarga Rustamadji, Yuke bertemu salah-seorang anaknya. Ketika menunjukkan foto ayahnya dan Bung Karno, sang anak terlihat terkejut. Tempat mengaku tak pernah melihat memotret tersebut. Menurut sang anak, ibunya menghilangkan semua dokumen – tercatat foto – terkait Presiden Sukarno.

“Nah, ini salah-satu alasan dengan menguatkan saya, mengapa (di relief itu) tidak ada nama (pembuatnya), ” kata arsitek dan pekerja pengajar di Universitas Pancasila itu, menganalisa.

Yuke menganggap seniman era 1960an dengan dekat dengan Presiden Sukarno, hampir selalu mencantumkan jati dirinya di dalam prasasti di sudut relief atau patung karyanya. “Orang sangat besar disuruh Bung Karno (membuat susunan seni), lah kok ini tidak ada namanya? ”

Ditanya apa kiranya motif di balik semua itu, Yuke kemudian mengaitkannya dengan periode kekuasaan Sukarno yang diambang kejatuhannya saat relief itu dibuat.

“Saat itu (kekuasaan) Bung Karno sudah meredup, ” katanya.

Hanya datang di sini analisa Yuke. Namun dia kemudian teringat kesaksian perupa Harijadi S, yang mengerjakan relief pesanan Bung Karno di Hotel Bali Beach, Sanur, Bali, di dalam periode waktu yang hampir bersamaan.

Dikutip oleh anaknya, Ireng Larasati, dalam sebuah buku pada 2015 lalu, menurut Yuke, Harijadi menyusun “… Saya disuruh menghilangkan gambar Sukarno. Dengan janji, biaya pembuatan relief akan dialirkan lagi, kami tidak mau. ”

Analisa ini juga diutarakan Yuke dalam acara Bincang Santai Relief di Gedung Sarinah , pekan ketiga Desember lalu. Saat itu dia tampil sebagai salah-satu pembicara dalam kegiatan yang digelar oleh Kemendikbud pada Museum Basoeki Abdullah, Jakarta, Pada sana dia melontarkan ‘teorinya’ tersebut.

“Ada tiga dugaan tentang ketiadaan piagam (di relief Sarinah), pertama suatu kesengajaan, kedua terimbas vandalisme, serta ketiga tertutup sesuatu, ” membuka Yuke.

Asikin sendiri masih meyakini prasasti itu “tertutup sesuatu”, walaupun dia tidak memungkiri bahwa relief itu kemungkinan dikerjakan sekitar 1963 sampai 1965 atau 1966 kacau masa-masa akhir kekuasaan Sukarno.

“Relief ini adalah relief terakhir yang pernah dibuat di masa Bung Karno, ” katanya. Sebelumnya, Sukarno menghasilkan relief di Hotel Bali Beach (Sanur, Bali), Samudra Beach (Sukabumi), Hotel Ambarukmo (Yogyakarta), dan Hotel Indonesia, Jakarta.

Mengapa relief peninggalan Presiden Sukarno itu ‘ditutup’?

Relief mengambil sosok petani, nelayan, dan beberapa hasil pertanian serta perahu adang-adang itu, juga hewan ternak, terpendam di antara mesin-mesin, di perempuan gerai restoran cepat saji Mac Donald (kini sudah tutup) dalam lantai dasar.

Di awal pembentukan gedung Sarinah, relief itu beruang persis di depan pintu hadir utama. Namun belakangan pintu masuknya diubah dan digantikan gerai restoran cepat saji itu tadi.

Pemimpin Sarinah mengetahui keberadaan relief itu saat mulai merenovasi gedung itu pada tahun lalu.

Direktur Pati Sarinah, Fetty Kwartati, mengatakan modifikasi disain di tahun 1980an mendirikan relief itu akhirnya ditutup.

“Tahun 1980an, ada perubahan disain, ada transisi lay out, ” kata Fetty dalam wawancara khusus dengan BBC News Indonesia melalui zoom, Selasa (12/01).

“Pada saat itu, akhirnya awak memutuskan untuk menutup relief tersebut, karena disesuaikan dengan kondisi yang memang tepat saat itu, ” ungkapnya.

Fetty menolak jika disebut relief itu ‘diletakkan’ bersebelahan dengan mesin-mesin.

“Tapi karena lokasinya tetap dipertahankan di situ dan lay out -nya yang baru memerlukan tempat spot untuk pesawat dan sebagainya di lokasi itu, sehingga lokasinya bersebelahan dengan relief, ” kata Fetty.

Dia juga tidak setuju apabila relief itu diistilahkan ‘digudangkan’ atau ‘ditelantarkan’.

“Tapi karena memang lebih hajat teknis untuk tidak mengubah status dari relief tersebut. ”

Berkali-kali Fetty menepis anggapan relief itu ditutup karena dikaitkan dengan perubahan rezim Sukarno ke Suharto, sehingga segala sesuatu yang berbau Sukarno dihilangkan.

“Saya melihat ini kepentingan induk belanja itu sendiri.

“Di mana sentral belanja dari from time to time ada perubahan dari sisi disain, dan juga perubahan lay out, ” jelasnya.

Fetty lalu mencontohkan renovasi gedung Sarinah yang sedang berlangsung saat ini. “Jadi lebih hajat komersial atau kepentingan teknis lantaran sebuah pusat belanja. ”

Asikin, kurator seni yang dilibatkan dalam pelestarian relief ini, mengatakan, masalah utamanya terletak pada “apresiasi” masyarakat terhadap karya seni.

“Persoalan ketidaktahuan kalau tersebut karya yang berharga, bernilai, bersejarah, artistik. Ini persoalannya, ” ujarnya.

Asikin juga tidak melihat penelantaran relief Sarinah itu terkait dengan aspek ideologi dan politik. Sesuai diketahui, tema patung dan relief peninggalan Sukarno identik dengan kewarganegaraan.

“Menurut saya ini lebih kepentingan pragmatis saja. Saya agak kecil melihat dari aspek ideologi dan politis, ” paparnya.

Apa keistimewaan relief Sarinah dibanding relief rancangan Sukarno yang lain?

Pada awal tahun 60an, Sukarno merancang beberapa relief berskala besar, serupa di Hotel Indonesia di Jakarta, Hotel Bali Beach di Sanur, Bali, Hotel Ambarukmo (Yogyakarta) serta Hotel Samudra Beach di Sukabumi.

Sebelumnya Sukarno juga mendisain tiga relief di bekas bandara Kemayoran, Jakarta.

Dan terakhir, Sukarno diyakini pula pada balik keberadaan relief di dasar gedung Sarinah, kata Asikin.

Menurut Asikin, salah-satu keistimewaan relief Sarinah adalah materialnya yang memakai beton bertulang. Dia menyebutnya jadi “permulaan yang baru dalam konvensi pembuatan relief di Indonesia. ”

“Kemudian dibuatkan bentangan yang sangat panjang antara 13 dan 15 meter yang dicor dalam satu panel, kemudian relief itu dibangun di situ, ” paparnya.

Perihal temanya, Asikin menilai relief di Sarinah menunjuk kepada tema keseharian atau kerakyatan, yang “terhubung” dan “dekat” dengan tema-tema koleksi lukisan Bung Karno.

“Kelihatan sekali ini gagasan & ide yang dibangun Bung Karno, ” kata Asikin.

“Misalnya Sukarno pernah punya diksi menarik: marhaenisme, yang melihat atau muncul pada masyarakat kecil, seperti petani & nelayan, ” tambahnya.

Pesan dengan ingin disampaikan melalui relief itu, menurutnya, terletak pada semangat berjuang dalam berdagang. “Sosok-sosok yang ditampilkan dalam 12 patung itu gagah, tidak layu. Ekspresinya penuh watak, ” paparnya.

Adapun arsitek Yuke Ardhiati, yang pernah meneliti karya-karya relief rancangan Sukarno, mengatakan, keistimewaan relief Sarinah terletak pada ukuran wujud manusianya.

“Saya syok melihatnya… Itu membuktikan suatu skala di luar rasio manusia. Gigantik! ” katanya.

Yuke kemudian membandingkan dengan ukuran tubuhnya era berdiri di samping patung dalam relief yang tingginya mencapai 3 meter.

Keistimewaan lainnya, demikian Yuke, bentuk sosok 12 orang petani serta nelayan yang diperlihatkan “gagah perkasa” dan “tidak membungkuk”.

“Ini beda dengan tampilan wong cilik yang terbungkuk-bungkuk & penuh rendah diri. Ini gagah banget ! ” papar Yuke.

Ada dua relief di Gedung Sarinah?

Kira-kira 10 tarikh silam, Yuke mendapat informasi sepenggal dari maestro pematung Indonesia, Edhi Sunarso, bahwa ada karyanya berbentuk mozaik di Gedung Sarinah, Jakarta.

“Sebelum meninggal, dia (Edhi Sunarso) sejumlah saya punya karya mozaik di Sarinah, ” ungkap Yuke Ardhiati.

Edhi Sunarso (meninggal 2016) adalah pembuat Monumen Selamat Datang, Monumen Dirgantara dan Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta.

Informasi itu tak menyebut dengan detil di mana letak persisnya mozaik itu. “Saat itu, beta tidak berpikir akan ada relief di lantai dasarnya, ” akunya.

Belakangan dia menemukan foto pengusaha Dewi Motik saat belia dan menggunakan kebaya. Dia dipotret dengan latar mozaik di ruang multi guna Gedung Sarinah.

“Saya telepon Dewi Motik, dan dia mengaku masa itu sedang mendaftar acara None Jakarta , ” ungkap Yuke.

Kejadiannya pada 1968. Bertempat di lantai 14, wadah itu kelak disulap menjadi night club pertama di Indonesia. Namanya Miraca Sky Club, yang dikelola tokoh perfilman Usmar Ismail. “Tempat itu juga jadi pusat jalan, dan syuting film segala, ” Yuke bercerita.

Masih penasaran dengan mozaik itu, Yuke menelusuri judul filmnya. Dia berhasil mendapatkan potongan hidup yang memperlihatkan mozaik tersebut. ” Keren banget mozaiknya, lebih mewah dibanding yang di lantai dasar, ” katanya.

Sayangnya, dia hanya mendapat satu tulisan saja. Padahal dia yakin ada 12 potongan mozaik lainnya. “Temanya, ada perempuan Bali menggerai dagangannya. Itu di bawah. Yang pada atas, perempuan berdagang dengan cara berkeliling. ”

Dan apakah relief berupa mozaik di lantai 14 ini masih ada? “Sudah tidak ada, ” kata Yuke. Dia sudah mengklarifikasi penelusurannya kepada pimpinan Sarinah dan jawabannya “belum pernah melihatnya. ”

“Memang sudah tidak ada. Di berita koran telah terjadi kebakaran (di gedung Sarinah pada 1980an), jadi meluluhlantakkan sebagian struktur dan benar koleksi-koleksinya, ” ungkap Yuke. Tempat menduga kebakaran ini yang menjadikan mozaik itu tidak ditemukan sedang.

Barulah setelah di media sosial beredar tentang penemuan relief di dasar Sarinah, Yuke sempat menyangka relief itu adalah mozaik seolah-olah disebut Edhi. Namun belakangan tempat tidak yakin “itu relief yang sama”.

Upaya konservasi: ‘Tampilkan pula riwayat saat relief itu diabaikan’

Secara menyeluruh, menurut Direktur Utama PT Sarinah, Fetty Kwartati, relief itu sedang utuh dan kondisinya sangat cara.

“Tidak dalam kondisi rusak. Tersebut masih sangat baik, ” introduksi Fetty.

Asikin mengakui, saat ditemukan, tersedia dinding triplek yang membelah relief di sisi pinggir relief.

“Itu penghalang triplek untuk dua ruang terbelah, ruang mesin dan petugasnya, ” ungkapnya.

Namun dia memastikan secara umum relief dalam kondisi indah.

Saat ini pihak Sarinah sedang mengkonservasi relief tersebut, sebelum nantinya ditampilkan ke depan publik dalam 17 Agustus nanti.

“Jadi restorasinya benar-benar membatalkan kepada kondisi awal, sedapat mungkin ya, ” katanya.

Fetty juga menguatkan posisi relief tetap akan di posisi awal, dan tidak hendak dipindah.

Sarinah juga melibatkan tim ahli cagar budaya DKI Jakarta dan tim sidang pemugaran. Lebih kurang empat bulan lalu, misalnya saja, mereka diundang Sarinah untuk tahu langsung relief tersebut.

Candrian Attahiyat, salah-seorang anggota tim ahli cagar adat Jakarta, mengatakan, pihaknya belum menyingkirkan rekomendasi, lantaran data kesejarahan relief itu masih minim.

“Tetapi ini tetap kita jadikan sebagai bagian memori pembangunan Sarinah. Sedangkan Sarinah telah diusulkan sebagai cagar budaya, sehingga reliefnya disusulkan sebagai bagian gedung sarinah, ” kata Candrian kepada BBC News Indonesia, Selasa (12/01).

Poin penting dari relief itu, begitu Candrian, adalah sebagai sebuah riwayat sejarah, sehingga harus dilestarikan.

“Ini susunan seni bagian dari gagasan Pemimpin pertama Indonesia, Sukarno, sehingga menetapkan ada apresiasi, ” katanya. Pihaknya mendukung langkah Sarinah untuk menampilkannya kepada publik.

Selain meminta supaya relief itu tetap di lokasi awalnya, Candrian juga mengharapkan agar Sarinah menampilkan sejarah perkembangan relief tersebut secara utuh.

“Ketika relief ini terabaikan, bagaimana ditampilkan dalam visualnya, sehingga masyarakat bisa memahami ternyata riwayat perjalanan relief ini memiliki perjalanan sedih dan pengalaman sentosa, ” kata Candrian.

Sarinah, melalui konservator relief tersebut, Asikin Hasan, berkomitmen untuk menampilkan “riwayat sedih” relief, termasuk akan “membiarkan” adanya vandalisme.

“Supaya publik tahu bahwa relief itu pernah mengalami hal-hal seperti itu. Pernah ada intervensi orang asing dengan material lain, ” ujarnya. Dia memberikan contoh “vandalisme” itu seperti intervensi semen di bagian tapak relief tersebut.

Perbaikan gedung Sarinah direncanakan selesai tujuh bulan sedang dan diresmikan bertepatan hari kebebasan dan ulang tahun Sarinah, yakni pada 17 Agustus.

Pada masa bersamaan, konservasi relief bersejarah ini diharapkan tuntas sehingga masyarakat sanggup mengapresiasi benda seni yang tahu terbengkalai itu.