Vaksin Covid-19 mulai dikirim ke 34 provinsi di Indonesia

PT Bio Farma mengucapkan vaksin Covid-19 didistribusikan ke 34 provinsi di Indonesia mulai hari Minggu (03/01), dalam persiapan untuk program vaksinasi yang akan berlangsung hingga Maret 2022.

Menurut ujung bicara PT Bio Farma Jelas Heriyanto mengatakan, rantai dingin ( cold chain ) sudah disiapkan untuk mengirim vaksin ke puluhan ribu fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Pengiriman membabitkan pemerintah daerah dan Puskesmas.

“Semua pertalian dingin di 2 sampai 8 derajat [Celsius], Insya Tuhan kita sudah siap, ” ujarnya dalam jumpa pers virtual, Minggu (03/1).

Namun vaksinasi baru akan dimulai setelah vaksin yang dibeli lantaran perusahaan China Sinovac itu mendapat izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikat halal dari MUI.

Saat ini, Indonesia telah memegang 3 juta dosis vaksin produksi Sinovac. Sekitar 1, 2 juta tiba awal Desember berarakan, dan 1, 8 lagi tiba menjelang pergantian tahun.

Tetap praktikkan 3 M

Juru bicara program vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmidzi, menjelaskan bahwa kalender vaksinasi akan berlangsung selama 15 bulan, dari Januari 2021 tenggat Maret 2022.

Target orang dengan akan divaksinasi sebanyak 181, 5 juta orang atau sekitar 70 persen dari total penduduk Nusantara. Tujuannya, membentuk kekebalan komunal atau herd immunity.

Program vaksinasi dibagi menjelma dua tahapan. Tahap pertama dilaksakanakan Januari hingga April 2021 dengan prioritas 1, 3 juta tenaga kesehatan dan 17, 4 juta publik. Tahap kedua, April 2021 hingga 2022, akan menjangkau sisanya.

Siti mengatakan pemerintah “cukup optimis” kalau program vaksinasi tahap pertama bisa terlaksana sesuai jadwal, mengingat hasil uji klinis terhadap vaksin Sinovac dari Brasil, Turki, dan Nusantara – yang dilaksanakan di Bandung – sejauh ini menunjukkan buatan yang baik.

Selama program vaksinasi berlaku, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat buat mempraktikkan protokol kesehatan yang disebut 3 M: Mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak.

“Karena perjalanan kita masih cukup panjang untuk bisa keluar dari vaksinasi Covid-19 itu, ” kata dr. Siti.

Bambang Heriyanto mengucapkan vaksin disimpan di PT Bio Farma dalam tempat penyimpanan istimewa, dan suhunya dijaga antara 2-8 derajat Celsius. PT Bio Farma dan BPOM juga telah menyelenggarakan serangkaian pengujian mutu.

“Pengujian ini dikerjakan dalam rangka menjaga kualitas dan keamanan produk vaksin agar terjamin mulai dari proses produksinya datang nanti didistribusikan, ” ujarnya.

Membantah informasi yang beredar

Lebih lanjut, PT Bio Farma membantah kabar yang meragukan keaslian dan kehalalan vaksin Sinovac.

Jelas menunjukkan sebuah pesan yang beredar melalui WhatsApp mengatakan bahwa vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi adalah vaksin untuk uji klinis dan mengandung sel dari kera hijau yang tidak halal.

Pesan tersebut disertai foto kemasan vaksin dengan bertulisan ” only for clinical trial ” (hanya untuk uji klinis).

Bambang menegaskan kalau vaksin Covid-19 yang saat tersebut sudah ada di Bio Farma akan digunakan setelah mendapat persetujuan dari BPOM, sehingga kemasannya mau berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk uji klinis.

“Vaksin untuk uji klinis menggunakan kemasan di mana medan vaksin dan jarum suntik dalam satu kemasan. Sedang vaksin dengan digunakan untuk program vaksinasi nanti dikemas dalam bentuk vial ukuran tunggal.

“Dan sudah pasti tidak hendak ada penandaan ‘only for clinical trial’ karena sudah mendapat persetujuan dari Badan POM, ” ujarnya.

Jelas menjelaskan bahwa vaksin dari Sinovac dibuat dari virus Covid-19 yang telah diinaktivasi, sehingga tidak mengandung virus yang masih hidup ataupun dilemahkan.

Virus yang menjadi pelajaran baku vaksin diperbanyak dalam organ vero, yakni jalur sel dengan berasal dari ginjal monyet muda Afrika, namun produk akhirnya tak lagi mengandung sel tersebut.

Ia memasukkan bahwa vaksin tersebut tengah dalam kajian aspek kehalalan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI).

“Untuk mendapatkan fatwa ulama Indonesia dan sertifikasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Keluaran Halal atau BP-JPH, ” imbuhnya.

Spesialis bicara program vaksinasi dr. Siti Nadia Tirmidzi juga meluruskan kekeliruan dalam sejumlah berita yang mengutip Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa progam vaksinasi bakal berjalan selama 3, 5 tarikh.

“Tiga setengah tahun itu program vaksinasi untuk dunia, bukan Indonesia, ” ujarnya.

Di dalam hari Rabu (30/12), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan logistik vaksin Covid-19 selesai pada pekan-pekan awal Januari. Hal itu dikatakannya setelah mengamankan 100 juta ukuran vaksin dari Astrazeneca dan Novavax.

“Saya merasa bahwa tahap pertama melanggar penyediaan dan persetujuan vaksin, Insya Allah bisa kita selesaikan di waktu seminggu atau dua minggu lagi sehingga kami di kementerian kesehatan bisa masuk ke periode kedua, ” kata Budi setelah menyaksikan penandatanganan kontrak antara PT Bio Farma dengan Astrazeneca dan Novavax di Bandung,

Tahap kedua dengan dimaksud Menkes ialah merencanakan pembagian vaksin ke seluruh pelosok Nusantara dalam waktu yang singkat.

Pada keadaan yang sama, Badan Pengawas Obat dan Makanan menyerahkan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada PT Bio Farma. Ini bermanfaat perusahaan di Bandung itu mampu memanufaktur vaksin sendiri dari bulk atau konsentrat vaksin Covid-19 yang didatangkan dari Sinovac. Jumlah dosisnya 122 juta.

Sebelumnya, Menkes Budi menyatakan Indonesia telah mengamankan sekitar 660 juta dosis vaksin Covid-19 melalaikan kerja sama bilateral dan multilateral.

Apa saja jenis vaksin dengan akan digunakan di Indonesia?

Menurut Kemenkes, Indonesia telah mengamankan jatah vaksin dari empat perusahaan yakni Sinovac (China), Novavax (Kanada), AstraZeneca (Inggris), dan Pfizer/BioNTech (Amerika Serikat), dan dari skema global yang dikenal COVAX, dipimpin salah satunya sebab Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dari keempat perusahaan tersebut, baru Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca yang lolos uji klinis dan sudah mendapat lampu muda dari regulator di negaranya kepala masing-masing melaporkan efektivitas 95% dan 90%. Sedangkan Sinovac dan Novavax masih menjalani uji klinis tahap 3.

Ahli bicara vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, mengatakan perbedaaan jenis vaksin tidak akan besar pada pembentukan kekebalan kelompok ( herd immunity ) yang merupakan tujuan vaksinasi.

Kemenkes menganggap, kata Siti, semua vaksin yang direkomendasikan WHO sama manjurnya.

Bagi organisasi bentukan PBB itu, vaksin dengan efektivitas 50% – artinya, setengah dari jumlah orang dengan divaksin kebal dari Covid-19 semrawut sudah bisa dianggap baik.

Hal yang lebih penting, Siti menambahkan, ialah mencapai sasaran vaksinasi yakni 181, 5 juta jiwa atau 70% populasi Indonesia.

“Gimana mau pilih merk kalau ketersediaan itu jadi isu, jadi apapun juga pasti kita akan mencoba men- secure pemenuhan vaksin. Apalagi untuk negara seperti kita tersebut yang jumlah penduduknya besar, tak mungkin menyediakan dari satu jenis vaksin dalam waktu yang segera, ” terang Siti.

Kelompok apa selalu yang akan menerima vaksin?

Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, vaksinasi tahap pertama pada Januari hingga April 2021 akan diberikan kepada petugas kesehatan (1, 3 juta), petugas publik (17, 4 juta), dan warga berusia di atas 60 tahun.

Penduduk berusia 60 tahun menjadi prioritas ketiga berdasarkan masukan bahwa 1. 620 subyek uji klinis vaksin Sinovac di Bandung berada di kelompok umur 18-59 tahun.

Budi mengatakan BPOM pusat menunggu hasil uji klinis vaksin yang serupa di Turki dan Negeri brazil, yang mengambil subyek berusia di atas 60 tahun.

“Itu sebabnya lansia kami taruh agak ke pungkur. Kami ingin memastikan data saintifik soal vaksin ini dan BPOM sudah feel comfortable , ” ujar Budi, Selasa (29/12).

Adapun vaksinasi tahap kedua pada April 2021 hingga Maret 2022 mau diberikan pada penduduk di daerah berisiko penularan tinggi (63, 9 juta) dan masyarakat lainnya (77, 4 juta).

Presiden Joko Widodo sudah menyatakan bahwa dirinya akan menjadi orang pertama yang akan disuntik dengan vaksin Covid-19.

Pada Rabu (30/12), Menkes Budi juga mengatakan bahwa ia siap disuntik terlebih dahulu.

Bagaimana vaksin akan didistribusikan?

Distribusi vaksin Covid-19 ke daerah-daerah membutuhkan rantai dingin (cold chain). Dan buat jenis vaksin tertentu, misalnya dengan diproduksi Pfizer, dibutuhkan penyimpanan dalam suhu minus 70 hingga kurang 80 derajat Celsius.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya masih mereka rencana distribusi vaksin Covid-19.

Pakar imunisasi, Elizabeth Jane Supardi, menilai kemampuan Puskesmas di Indonesia sudah 97% jadi. Apalagi, kampanye vaksinasi Covid-19 tersebut tidak seperti kampanye-kampanye vaksinasi sebelumnya yang didesak harus cepat.

“Itu membangun bukan yang harus segera karena vaksinnya sendiri kelihatannya datangnya serupa sedikit-sedikit. Jadi masih bisa bernapas, ” ujarnya.

Adapun menanggapi kekhawatiran soal penyimpanan suhu rendah, Direktur Sempurna PT Bio Farma, Honesti Basyir menjelaskan bahwa Pfizer akan meminjamkan lemari es ultra-low temperature ke daerah-daerah yang memungkinkan.

“Jadi khusus Pfizer ini memang kita harus selektif, kita juga harus hati-hati, buat memilih lokasi di mana kedudukan itu memang siap, ” ujarnya.

Dengan jalan apa dengan uji klinis vaksin Sinovac di Bandung?

Uji vaksin Sinovac dalam Bandung sudah berjalan selama lima bulan. Uji ini melibatkan satu. 620 subjek berusia 18-59 tarikh.

Para peserta uji diberikan dua dosis, selang 14 hari. Penyuntikan ukuran selesai pada 6 November & pengambilan darah 14 hari panca suntikan selesai pada 20 November, kata ketua tim riset tes klinis, Profesor Kusnadi Rusmil.

Menurut Prof. Rusmil, tim riset sedang memeriksa para peserta uji untuk memeriksa tahu efek samping dari vaksin.

“Sejauh ini, efek samping yang muncul, yang terbanyak adalah reaksi lokal, berupa nyeri pada tempat suntikan dengan intensitas mayoritas ringan, ” ujarnya.

“Reaksi sistemik juga terbanyak ialah pegal pada otot, dan mayoritas juga ringan. ”

Prof. Rusmil mengutarakan bahwa laporan hasil uji interim kedua akan diserahkan kepada BPOM pada awal Januari 2021.

Sementara kepala BPOM, Penny Lukito, mengatakan data-data hasil uji yang dilaporkan sejauh ini “menunjukkan hasil yang baik, ini terus meningkakan confidence dari ana sebagai evaluator bahwa nanti hasilnya akan menjadi baik. ”

Penny mengucapkan pihaknya sedang menunggu data buatan interim dari pemantauan selama 3 bulan, yang dari itu mau didapatkan data efikasi atau kemujaraban vaksin Sinovac.

Baru-baru ini peneliti pada Turki melaporkan bahwa hasil pokok uji klinis fase 3 di negara itu menunjukkan efikasi 91, 25% dari sekitar 7000 sukarelawan, jauh lebih baik dari hasil uji di Brasil yakni dalam atas 50% dari 13. 000 sukarelawan.

Menurut Penny, data-data ini “konsisten” dengan data-data yang didapatkan dalam Bandung.

Penny juga mengatakan bahwa pemberian Izin Penggunaan Darurat (EUA) buat vaksin Covid-19 akan melalui proses percepatan.

“Namun, tetap, aspek manfaat yang akan didapatkan akan lebih agung dibandingkan aspek risiko yang tersedia, ” ujarnya.