Valentine di tengah pandemi Covid-19: Makin banyak yang suka pacaran menggunakan video online atau ‘zoomancing’

  • Fernando Duarte
  • BBC World Service

5 jam yang lalu

Zaman Inggris berlakukan lockdown karena pandemi Covid-19, untuk kali pertama Maret tahun lalu, Kristina sadar kalau upayanya mencari jodoh makin suram.

Seperti kebanyakan orang, tempat lalu beralih ke kencan virtual – yaitu gaya pacaran jarak jauh lewat video yang mewujudkan dia kini lebih terbiasa, dan dalam beberapa hal, lebih tempat suka. Jadi, apakah “Zoomancing” (atau pacaran lewat Zoom) ini telah mengubah cara orang berpacaran buat seterusnya?

“Lockdown benar-benar bikin kami tidak bisa keluar untuk berpacaran, ” kata Kristina, seorang perempuan berusia 43 tahun asal Afrika Selatan yang bekerja sebagai pengasuh anak di London.

“Saya masih ingin nongkrong di bar & minum bersama teman-teman. Tapi saya tidak lagi kangen dengan metode bertemu seseorang yang belum hamba cukup tahu seperti sebelumnya. ”

“Dengan [pacaran] lewat video, kita langgeng berada di rumah, kalau ada yang salah dan jadi tak canggung. Saya pun bisa pendirian uang dan waktu. ”

‘Cinta pelan-pelan’

Masa internet kian menjadi cara yang lazim bagi para sejoli untuk saling bertemu di belahan negeri manapun dalam dua dekade final, pacaran selama pandemi ini sudah mengalami sejumlah perubahan karena ada hambatan untuk bertemu dan jalan-jalan.

Bermacam-macam aplikasi kencan mengalami peningkatan jumlah anggota di seluruh dunia di 2020. Aplikasi Hing, salah satunya, jumlah unduhannya naik 82%.

Banyak karakter pun kini menghabiskan lebih banyak uang untuk mengunjungi aplikasi kencan, menurut lembaga konsultan We Are Social, yang menemukan bahwa Tinder akhir tahun lalu berada di untuk TikTok dan Netflix dalam situasi pengeluaran penggunanya.

Namun menurut sebanyak perusahaan jasa kencan mengungkapkan kalau beberapa survei mengungkapkan perubahan yang lain.

Mereka menemukan bahwa bahkan di tempat-tempat yang secara teknis masih sulit untuk bertemu secara langsung – meski secara sosial berjauhan – ada peningkatan jumlah pemakai aplikasi untuk memilih menunda berpacaran secara langsung dan malah memastikan berkontak dahulu secara daring secara calon jodoh mereka untuk sekian lama.

Tren itu, bagi para pakar, didorong oleh bertambahnya penggunaan sambungan lewat video (video calls), jadi dari situ muncul istilah Zoomancing.

“Cara yang lama dan umum, yaitu bertemu secara langsung telah sulit dilakukan, keinginan orang-orang untuk bertemu seseorang dan berkontak benar belum berakhir, ” kata Hayley Quinn, seorang instruktur kencan serta pembicara TedX, kepada BBC.

“Namun di masa pandemi ini memajukan tren Zoomancing, yang mana orang-orang ingin cari tahu satu pas lain lebih baik lagi, pra berkomitmen untuk pergi pacaran dengan langsung. ”

Kalangan pakar perkencanan yakin kalau pembatasan kehidupan sosial telah meluluskan peluang bagi orang-orang untuk berkaca lebih jauh mengenai cara mereka membangun hubungan.

Helen Fisher, paker antropologi biologis dan ketua advokat ilmiah perusahaan Match. com, yakin bahwa ada penguatan tren dengan dia sebut “cinta pelan-pelan. ”

“Saya sudah mensurvei kaum lajang pada AS selama bertahun-tahun. Sebelum pandemi, hanya 6% yang menggunakan percakapan video. Kini sudah dilakukan sebab satu dari lima kaum lajang, ” jelasnya.

“Orang-orang menghabiskan bertambah banyak waktu di rumah & mereka menikmati percakapan yang bertambah bermakna, lebih jujur, transparan, & membuka diri. ”

Kristina, contohnya, mengatakan bahwa pembatasan wilayah telah mendirikan dia berkomunikasi lebih terbuka dengan para calon pacarnya sebelum melanjutkan untuk bertemu secara langsung.

“Artinya saat ini kami harus lebih mengenai mulia sama lain secara lebih di dalam, ” katanya.

Pergeseran budaya

Tidak mengejutkan kalau beberapa aplikasi perkencanan memiliki sifat percakapan video lebih luas lagi selama pandemi.

Grindr, yang menyediakan servis bagi komunitas LGBTQ, membuat fitur percakapan video premium yang gratis diakses untuk beberapa waktu dan membawa para penggunanya untuk tampil secara virtual di kencan-kencan maupun acara-acara penting seperti “Pride Month. ”

“Kami tentu saja telah menyadari pergeseran budaya dalam menggunakan pelaksanaan kencan selama pandemi, ” cakap Alex Black, kepala pemasaran Grindr, kepada BBC.

“Sekitar 48% dibanding pengguna jasa kami mengaku telah berhubungan secara virtual dengan seseorang, termasuk dengan menggunakan foto & video. ”

“Ini menunjukkan kalau mereka mencari cara lain untuk terhubung di saat ‘bertemu saat itu juga’ harus menunggu. ”

Industri kencan bahkan telah menyaksikan peluncuran teknologi baru untuk menutup kebutuhan Zoomancers.

Salah seorang pendiri Penyaring Off, Zack Schleien, berkaca daripada pengalaman-pengalaman dia dalam berkencan zaman menciptakan aplikasi video berbasis diskusi tahun lalu.

Menurut dia, apalagi sebelum pandemi dia biasa menodong calon pacarnya untuk bertemu menggunakan komunikasi video sebelum ketemu tepat.

“Saya sering berkencan dan terkadang secara cepat menyadari kalau memang tak nyambung, pasti salah satunya sungguh tidak tertarik, ” kata dia.

“Jadi saya minta orang-orang buat pakai komunikasi lewat video untuk memastikan bahwa ada prospek yang baik sebelum saya bertemu dengannya. Kebanyakan menolak saya. ”

“Tapi kami tahu pasti ada orang asing yang punya harapan yang setara. Pandemi ini telah mengubah persepsi dan chatting lewat video itu saat ini lebih sering bisa diterima. ”

Menurut Quinn, data dari sejumlah survei membuktikan bahwa bahkan saat pandemi berakhir, “banyak orang mengaku ingin lestari melanjutkan dengan komunikasi lewat video”

Patuh Tinder. com, lebih dari 65% pengguna yang mencoba fitur chat video sejak digulirkan secara global pada Oktober lalu mengaku mau menggunakannya lagi.

Sebagai sumber, gambar sudah menjadi alat pemeriksa dengan Fisher yakini tidak akan ditinggalkan saat kehidupan kembali berjalan wajar.

“Menurut saya, kita akan melihat bakal lebih sedikit kencan mula-mula secara langsung karena banyak orang ingin menyingkirkan hal yang itu tidak inginkan sebelum benar-benar bertemu langsung. ”

“Namun di saat dengan sama, kita akan melihat lebih banyak lagi kencan pertama dengan lebih berarti. ”

Tetap saja janji virtual bisa jadi sulit. Kristina mengaku beberapa temannya yang lajang, yang bekerja di bidang yang membutuhkan komunikasi virtual secara rutin, tidak langsung senang bila kudu tambah layar lagi untuk dipandang.

“Beberapa dari mereka seharian melangsungkan komunikasi lewat Zoom dan mereka menemukan bahwa kencan lewat video itu sungguh sulit, ” ujarnya.

Juga, seperti halnya kencan tradisional, pacaran online tidak dijamin lulus. Kristina mengaku sampai kini belum merasa “pas” dengan siapapun yang dia temui lewat video chat.

Namun, dia tidak sampai merajuk soal itu, juga tidak gamang mengalami Hari Valentine kali baru di saat lockdown. Dia lebih pilih belajar resep-resep baru buat merayakan bersama orang-orang dekat.

“Saya membakar hidangan seafood untuk teman-teman flat dan merayakan kita semua sungguh-sungguh saja walau ada pandemi. Itu lebih penting dari apapun saat ini. ”