Virus corona dan kearifan lokal: Kurungan sterilisasi dari daun sirih, daun lodeh untuk tolak bahaya sampai jaga jarak ke hilir sungai

Masyarakat adat di segenap Indonesia berjuang dengan cara itu sendiri untuk memerangi virus corona yang mewabah dengan melakukan kebiasaan dan ritual masing-masing untuk menyekat penularan penyakit pernapasan mematikan tersebut.

Pada wilayah adat Banualemo di Sulawesi Selatan, para perempuan bergotong royong meracik cairan desinfektan alami berbahan daun sirih dan jeruk nipis.

Cairan itu digunakan sebagai bahan penguapan pada sebuah tempat yang mereka ucap ‘bilik sterilisasi’, yang dibangun oleh para pemuda.

Baso’, anggota masyarakat adat Banualemo yang tinggal di Desa Bone Lemo, Bajo Barat, Luwu, Sulawesi Selatan, menuturkan cara ini ialah ilmu yang dianjurkan oleh nenek secara temurun untuk membasmi kuman dan penyakit yang kemudian dimodifikasi sesuai perkembangan zaman untuk memerangi virus corona yang mulai bercabul.

“Kita dari awal tidak menginginkan menggumakan bahan kimia untuk manusia. Dulu pengobatan menggunakan dengan model pengasapan, ini yang kita modifikasi pengasapannya, ” ujar Baso’ kepada BBC News Nusantara.

Dia menjelaskan jika dulu pengasapan menggunakan tungku, kini masyarakat adat Banualamo pada desa Bone Lemo memodifikasinya dengan menggunakan “penguap burung walet”.

“Kita membuat itu serta meminta semua warga untuk melangsungkan pengasapan atau istilah populer yang kita pakai hari ini, barak sterilisasi, ” kata dia.

Dalam tradisi masyarakat adat Banualemo, jika ada warga yang sakit biasanya langsung diobati oleh tabib dengan diasapi cairan berbahan daun sirih dan jeruk nipis.

Selain untuk mengobati penyakit, metode penguapan daun sirih dan jeruk nipis ini juga digunakan bagi perempuan yang akan menikah dengan tujuan penyucian diri dan mengusir roh sundal.

“Mungkin makhluk jarang yang disebut nenek kita barangkali termasuk jenis virus, tidak kelihatan, ” tutur Baso.

Baso mengatakan, masyarakat adat Banualemo memutuskan untuk melakukan tradisi pengobatan leluhur karena banyak warganya yang mulai waspada akan virus corona, yang telah menjangkiti lebih daripada 3. 200 orang dan menggulung setidaknya 280 orang di Indonesia.

“Kalau kira-kira orang yang sudah sangat gelap diceritakan tentang corona, mereka seperti agak ketahukan karena mereka sudah mengalami belum selesai dikuburnya satu orang, ada lagi mayat yang datang, ” papar Baso’.

Ritual minta perlindungan nenek

Sementara itu pada Kalimantan Tengah, masyarakat adat Dayak Kaharingan yang tinggal di Tumbang Malahoi, Rungan, Gunung Mas, menunaikan ritual manggatang s ahur lewu , sebuah ritual minta sambung tangan dan perlindungan dari patahu, para nenek penjaga kampung.

Mereka juga menggelar ritual mamapas lewu, ritual untuk membersihkan kota atau kampung dari pengaruh jahat ataupun hal-hal buruk yang terjadi kelanjutan tindakan manusia maupun roh-roh biadab.

Ritual sewarna ini, oleh Thomas Edison, lupa satu warga yang ikut pada ritual yang digelar pada 25 Maret silam sebagai bahajat.

Kalau untuk kondisi sekarang, bahajat agar aib namanya peres kami bilang dalam sini agar tidak sampai ke desa Tumbang Malahoi. Sehingga awak menggatang sahur untuk melindungi lewu kami dari wabah penyakit itu, ” ujarnya.

Biasanya, ritual itu diikuti oleh seluruh masyarakat kebiasaan yang tinggal di suatu provinsi, akan tetapi keharusan jaga jarak sosial, atau sosial distance buat mencegah penularan virus corona ritual itu hanya diikuti oleh beberapa kecil masyarakat Dayak Kaharingan pada Tumbang Malahoi.

“Karena ada pembatasan untuk rangkai orang banyak, yang membagi beras marua dan kain kuning jadi tanda, ketua RT masing-masing, ” jelas Thomas.

Besesandingon Orang Rimba

Tatkala itu, praktik social distance ternyata sudah lama dilakukan oleh masyarakat adat Orang Rimba di Jambi.

Bahkan jauh pra virus corona mewabah

Mereka menyebutnya dengan besesandingon , atau tradisi yang selama ini mereka lakukan untuk menghentikan segala penyakit menular.

Pegiat hak kelompok adat Orang Rimba, Saur Marlina Manurung, menjelaskan dalam praktik social distance ala Orang Rimba ini, si tersangka sakit harus mengisolasi diri selama beberapa hari.

Oleh Orang Rimba, pemisahan orang yang sakit ini disebut disesandingko , atau dipisahkan. Mereka tidak boleh berbaur dengan sehat.

Kebiasaan ini tidak hanya berlaku untuk Orang Rimba saja, namun karakter dari luar yang bertandang ke wilayah tinggal Orang Rimba.

Mereka dipisahkan daripada orang yang sehat, bahkan secara jarak hingga 50 meter.

Biasanya, mereka ditempatkan di lokasi yang lebih ke hilir sungai, sementara yang bugar tinggal di hulu sungai. Jadi, air yang dipakai oleh orang yang sakit, tidak mengalir ke mereka yang sehat.

“Di rimba itu membentuk semua orang tinggal di depan sungai, dan itu ada konsep hulu hilir. Jadi orang kalau baru datang, dia harus susunan di paling hilir dari seluruh orang, ” jelas perempuan yang akrab disapa Butet ini.

“Jadi mereka percaya belum tentu orang ini sakit, tapi orang ini bisa jadi mendatangkan penyakit walaupun orang ini nggak sakit, ” lanjutnya.

DIa menambahkan, apapun yang dipegang si sakit tidak boleh disentuh, bahkan jalur di hutan yang ia lewati saat kembali dari luar rimba menuju ke dalam rimba, akan ditabukan mau dilewati.

“Mereka mau bikin jalur setapak baru, ” lanjutnya.

Butet mengatakan, kesehatan bagi Orang Hutan raya sangat menjadi prioritas. Hal ini tampak dari tiap kali sesama Orang Rimba bertemu, yang ditanya adalah kondisi kesehatan mereka.

Apa mikai bungaron , apakah kamu sehat?, ” kata dia.

Ritual tolak bala bangsa Jawa

Sementara itu, sejumlah warga Solo di Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala untuk mengusir wabah virus corona yang sedang melanda.

Selain memasak sayur lodeh, ada juga warga yang memasang sesaji gantungan daun alang-alang dan daun opo-opo hingga cukur gundul.

Salah satu keluarga Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Wandansari mempercayai bahwa pandemi virus corona Covid-19 disebut sebagai pagebluk , istilah orang Jawa untuk menyebut wabah penyakit.

Oleh sebab itu, sesuai secara kepercayaan para leluhur, dilakukan ritual tolak bala atau tolak mematikan untuk menghalau pagebluk.

“Kalau Keraton Yogya tolak bala dengan sayur lodeh, kalau kami dengan ritual memasang godong (daun) alang-alang dan godong opo-opo, ” ujar GKR Wandansari, seperti dilaporkan oleh wartawan Fajar Shodiq untuk BBC News Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Paduka Moeng ini menuturkan dua jenis daun itu sering digunakan dalam berbagai ritual tradisi masyarakat Jawa seperti halnya tuwuhan yang dipasang di bagian kiri dan kanan pintu saat menggelar hajatan pernikahan.

Baginya, daun alang-alang dan daun opo-opo dengan digabung menjadi satu itu memiliki simbol yang penuh makna.

“Ya, artinya ora ono alangan opo-opo (supaya tidak terjadi apa-apa). Terus kalau ada yang jelek-jelek ke kita itu di-alangi (dihalangi), ” ungkap Paduka Moeng yang merupakan putri lumayan Raja Sinuhun Pakubuwana XII.

Sesaji tolak bala tersebut digantung di depan pintu. Menurutnya adanya sesaji daun alang-alang dan daun opo-opo itu diharapkan bisa menolak pagebluk yang masuk ke rumah.

“Digantung pada atas pintu masuk. Tapi kalau di belakang terdapat pintu juga bisa dipasangi gantungan daun alang-alang dan opo-opo itu, ” terangnya.

Pemasangan daun alang-alang dan daun opo-opo telah dilakukan sejak tanggal 15 Maret 2020 lalu.

Para abdi dalam Keraton yang terlibat dalam Paguyuban Kawula Keraton Kasunanan Surakarta (Pakasa) yang tersebar dalam wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, pun mengikuti ritual sewarna.

“Tapi serentak pemasangan tolak bala daun ilalang dan daun opo-opo itu dikerjakan pada tanggal 21 Maret 2020 lalu, ” sebutnya.

Aksi tolak bala juga dikerjakan di Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo pada Senin (23/03) silam secara memasak dan makan bersama tumbuhan lodeh tujuh rupa.

Sayur lodeh tujuh rupa itu terdiri dari kluwih, terung, kulit melinjo, waluh, daun so, tempe, dan cang gleyor bagi kelompok Jawa memang sudah menjadi kepercayaan untuk tolak bala wabah maupun bencana yang terjadi.

Warga Gandekan, Arik Rahmadani, mengatakan tradisi memasak sayur lodeh tujuh rupa merupakan tradisi yang turun temurun dari nenek moyangnya pada kala pagebluk.

“Selama itu baik dan nyata kenapa tidak kita coba untuk membuat sayur lodeh tolak bala, ” kata dia.

“Kita ya percaya juga tidak, karena ini turunan dari emak moyang. Dan makan bersama ialah hal yang baik dan bentuk silaturahmi kita, ” lanjut Arief.

Berbeda dengan Arief yang skeptis dengan khasiat sayur lodeh, warga yang asing, Eka Diana memercayai sayur tersebut sebagai penolak bala.

“Jadi tujuannya untuk mengusir virus corona. Dan saya meyakini saja karena saya orang Jawa dan mengikuti ada Jawa, ” jelasnya.

Ritual dorong bala pun dilakukan oleh Pemangku Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang mencukur gundul rambutnya bersama para pejabat pemerintah kota Solo yang lain.

Baginya, cukur gundul bersama itu patuh kepercayaan orang Jawa sebagai salah satu cara menolak bala agar Solo terbebas dari wabah virus corona Covid-19.

“Gundul tersebut kan simbol untuk membersihkan segala sesuatu kotoran. Kalau digundul tersebut cara membersihkannya kan lebih barangkali, ” jelasnya.

Menjaga keseimbangan

Pakar antropologi yang juga peneliti Pusat Etnografi Komunitas Adat di Yogyakarta, Yando Zakaria, memandang kebiasaan dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat di tengah epidemi, pada dasarnya adalah untuk memelihara keseimbangan.

“Masyarakat adat dengan perkembangan kehidupan dengan mereka hadapi dengan segala wawasan mereka tentang alam, pada biasanya memiliki prinsip kehidupan bagaimana menyeimbangkan, menjaga keseimbangan tiga arah, hubungan antara sesama manusia, hubungan bani adam dan alam sekitar dan ikatan manusia dengan alam yang pada luar jangkauan manusia, ” perkataan Yando.

Wabah penyakit, gagal panen, lanjut Yando, dianggap sebagai bencana oleh umum adat.

Oleh karena itu, bukan hal dengan aneh jika dalam kehidupan masyarakat adat ditemukan tradisi yang memang menjaga keseimbangan, atau memulihkan harmoni.

“Intinya adalah bagaimana kehidupan manusia dan masyarakatnya tetap seimbang dengan mereka sesama pribadi, dengan alam, dengan dunia dengan lebih luas, katakanlah dunia ghaib atau supranatural yang tidak itu bisa lihat, jelasnya.

Tak hanya itu, menurut Yando, masyarakat adat kerap melaksanakan upaya preventif dengan memberlakukan tradisi-tradisi yang mereka anggap tabu, ataupun pelarangan untuk melakukan sesuatu di masa tertentu.

Sementara itu, Rukka Sombolinggi, Carik Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara mengungkapkan, tradisi dan ritual yang dilakukan pada saat wabah atau bencana tak lepas dari barang apa yang dia sebut sebagai “memori kolektif”.

“Masyarakat adat kan juga punya memori kolektif tentang pandemi. Jadi apa yang saat ini bisa dibandingkan secara apa yang terjadi seratus tarikh lalu, ” ujar Rukka.

Dia menjelaskan, pada saat flu Spanyol mewabah di Tana Toraja pada abad lalu, memproduksi warga ketakutan karena wabah tersebut menewaskan banyak masyarakat adat Toraja.

Memori kolektif bakal wabah yang terjadi sebelumnya, menghasilkan masyarakat adat lebih mawas muncul dalam menjaga keseimbangan dengan kawasan dan sesama manusia.

Kelompok paling rentan

Lebih lanjut, Rukka menjelaskan kalau jika wabah virus corona semakin meluas, masyarakat adat menjadi lupa satu kelompok yang sangat sensitif.

Kenapa masyarakat adat menjadi sangat rentan, karena selama ini kondisi geografis masyarakat adat yang sulit terjangkau, dan minim fasilitas layanan kesehatan dari negeri.

“Kalau datang masyarakat adat kena Covid-19, serta banyak meluas, bisa dipastikan bakal banyak sekali masyarakat adat yang mati tak terurus. Jadi tersebut bahaya sekali, ” tegas Rukka.

Senada, pegiat hak-hak Suku Orang Rimba, Butet Manurung mengungkapkan ketika masyarakat adat semakin tergantung pada dunia luar, itu akan semakin rentan.

Sebaliknya, ketika mereka semakin sedikit bergantung dengan dunia sungguh, maka mereka semakin kuat.

“Imunitas juga setara, semakin dia tergantung dengan sasaran dari dunia luar, imunitasnya semakin rendah. Semakin jelek sumber gaya alamnya, imunitasnya semakin rendah, ” ujarnya.

“Masyarakat kebiasaan sekarang lebih rentan ketimbang 20 tahun lalu, ” kata dia.

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, wafat dan sembuh di Indonesia dan dunia

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

SEBERAPA CEPAT VAKSIN OLEH SEBAB ITU: Paling tidak 20 vaksin tengah dikembangkan, namun kapan tersedia?

LAPORAN KHUSUS VIRUS CORONA

Let’s block ads! (Why? )